Greceknya Benua Etam: Menjaga Warisan Alam dan Budaya Kutai yang Kian Memudar

  • 02 Mei 2026 21:08 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pelestarian budaya dan lingkungan alam di tanah Kutai kini menghadapi tantangan besar seiring pesatnya pembangunan dan alih fungsi lahan. Dalam dialog Pantas Kutai di RRI Pro 4 Samarinda pada Rabu, 29 April 2026, terungkap kekhawatiran mendalam mengenai hilangnya identitas lokal, mulai dari penggunaan bahasa Kutai hingga kelestarian hutan Kalimantan yang dulunya dikenal sebagai "Paru-Paru Dunia."

Narasumber dalam program tersebut, Busu Ipay, menekankan bahwa "Grecek" yang dalam bahasa Kutai berarti cantik, elok, atau nyaman dipandang, kini mulai sulit ditemukan secara alami. Ia mengenang masa di mana satwa endemik seperti burung enggang (lengan), keluang, hingga bekantan masih mudah dijumpai di sekitar permukiman warga sebelum hutan berubah menjadi lahan sawit dan tambang.

Kerusakan ekosistem ini juga berdampak pada hilangnya sumber obat herbal tradisional Kutai yang legendaris. Tanaman seperti Tunjuk Langit, akar bajakah, dan kayu sepang yang dulunya menjadi andalan kesehatan masyarakat kini semakin langka. Busu Ipay menyebutkan bahwa mencari tanaman obat tersebut di hutan saat ini memerlukan usaha ekstra karena habitatnya yang kian tergerus.

Selain alam, tantangan besar lainnya adalah memudarnya penggunaan bahasa daerah di kalangan masyarakat perkotaan. Masuknya berbagai pengaruh budaya luar membuat bahasa asli Kutai perlahan mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Hal ini dikhawatirkan akan memutus rantai warisan leluhur jika tidak ada upaya serius untuk membiasakannya kembali dalam percakapan sehari-hari.

"Kita sebagai orang Kutai, tunjukkan Kutai kita. Jangan malu berbahasa Kutai. Ini rumah kita sendiri, kalau bukan kita yang memperjuangkannya, siapa lagi? Bahasa itu mahal harganya, jangan sampai hilang," ujar Busu Ipay dengan penuh penekanan dalam siaran tersebut.

Interaksi dengan pendengar juga menyoroti kondisi Sungai Mahakam yang tak lagi jernih seperti era 1980-an. Aktivitas industri di sepanjang sungai mengakibatkan populasi ikan lokal seperti belida dan baung menurun drastis. Masyarakat berharap agar pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan agar identitas "Green Borneo" tidak sekadar menjadi slogan.

Menutup dialog, masyarakat diajak untuk menjaga apa yang tersisa dari warisan seni dan budaya bebaya (bersama-sama). Kesadaran kolektif untuk melestarikan lingkungan dan adat istiadat menjadi kunci agar kecantikan Benua Etam tidak hanya berakhir sebagai cerita dongeng bagi anak cucu di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....