Akulturasi Budaya dalam Sandiwara Mamanda Samarinda

  • 01 Mei 2026 15:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Sandiwara Mamanda yang berkembang di Kota Samarinda memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan versi aslinya dari Kalimantan Selatan. Hal ini tidak lepas dari proses akulturasi budaya yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Samarinda, Barlin Hady Kesuma, mengungkapkan bahwa Mamanda di Samarinda merupakan hasil perpaduan budaya Banjar dan Kutai yang berkembang secara alami di tengah masyarakat. “Kami mengakui bahwa sandiwara mamanda di Samarinda berasal dari budaya Banjar, namun sejak tahun 1960-an telah mengalami perubahan secara kultural dengan budaya lokal,”ujarnya saat menjadi narasumber Pesona Budaya Borneo, Rabu 22 April 2026.

Salah satu perbedaan paling mencolok terletak pada unsur musik pengiring. Jika Mamanda Banjar menggunakan musik khas daerah asalnya, Mamanda Samarinda justru menghadirkan nuansa berbeda.

“Perbedaan signifikan ada pada musik, di Samarinda, Mamanda menggunakan musik khas Kutai seperti gambus dan tingkilan,” ujarnya. Perubahan ini mencerminkan proses adaptasi budaya yang menjadikan Mamanda lebih dekat dengan identitas lokal masyarakat Samarinda.

Selain musik, perbedaan juga terlihat pada struktur cerita atau pakem pertunjukan. Mamanda Samarinda cenderung mengangkat kisah kerajaan sebagai latar utama.

“Kalau dari Banjar lebih banyak berupa petuah, sedangkan di Samarinda berbentuk sandiwara dengan setting kerajaan, lengkap dengan raja dan para penggawanya,” ucapnya. Cerita-cerita tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan moral dan kritik sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Keunikan lain dari Mamanda Samarinda adalah penggunaan bahasa daerah yang beragam. “Bahasa yang digunakan adalah perpaduan Kutai dan Banjar, ini menunjukkan kuatnya akulturasi budaya di Samarinda,” katanya.

Fenomena akulturasi ini menunjukkan bahwa budaya tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat. Mamanda Samarinda menjadi contoh nyata bagaimana sebuah seni tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasarnya, sekaligus memperkaya khazanah budaya lokal.

“Perpaduan budaya ini sudah sangat kental sejak tahun 1960-an dan menjadi identitas tersendiri bagi masyarakat Samarinda,” ujarnya. Dengan keunikan tersebut, Sandiwara Mamanda Samarinda kini menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang berpotensi diangkat ke tingkat nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....