Budaya Bahari Raya Pererat Silaturahmi Masyarakat Berau

  • 01 Mei 2026 12:53 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Masyarakat Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terus menjaga kelestarian tradisi "Bahari Raya" sebagai sarana mempererat tali silaturahmi pasca-Hari Raya Idul Fitri. Tradisi turun-temurun ini menjadi momen krusial untuk memperkenalkan silsilah keluarga kepada generasi muda agar ikatan kekerabatan tidak terputus oleh perkembangan zaman.

Dalam program Pantas Berau yang disiarkan RRI Samarinda pada Jumat 24 April 2026, narasumber Agay Wahab mengungkapkan bahwa esensi dari Bahari Raya adalah kunjungan antar-keluarga yang dilakukan dengan penuh kehangatan. Orang tua berperan aktif membawa anak-anak mereka mengunjungi rumah kerabat untuk saling memaafkan sekaligus mengenalkan hubungan darah yang mungkin belum diketahui oleh sang anak.

"Dulu kita diajari budaya silaturahmi, dibawa orang tua dan dikenalkan ini pamanmu, ini sepupumu, agar kekerabatan itu tetap lekat," ujar Agay Wahab dalam dialog budaya tersebut. Hal ini dinilai penting mengingat di era modern, banyak generasi muda yang mulai kehilangan kontak dengan keluarga besarnya akibat kesibukan atau penggunaan teknologi yang masif.

Struktur masyarakat Berau yang cenderung komunal membuat perayaan hari raya terasa lebih panjang dan meriah. Menurut narasumber lainnya, Inda Susi, suasana di Banua (sebutan untuk daerah asal di Berau) memiliki keunikan tersendiri di mana silaturahmi bisa berlangsung hingga satu minggu penuh dengan sajian makanan khas yang disiapkan secara swadaya oleh tuan rumah.

Selain silaturahmi, kuliner tradisional menjadi daya tarik utama dalam momen ini. Berbagai penganan khas seperti manisan "Lua Kondur" dan "Lua Labu" yang dibuat secara alami melalui proses penjemuran matahari menjadi sajian wajib. Proses pembuatan wadai (kue) yang dilakukan bersama-sama antar-tetangga mencerminkan nilai gotong royong yang masih terjaga kuat di masyarakat Berau.

Namun, tantangan budaya digital menjadi perhatian serius dalam diskusi tersebut. Agay Wahab menekankan bahwa penggunaan gawai seringkali membuat interaksi fisik saat bersilaturahmi menjadi berkurang. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan adab santun dan tegur sapa secara langsung sebagaimana warisan leluhur yang mengutamakan kedekatan emosional.

Upaya pelestarian ini juga didorong melalui penggunaan bahasa daerah Berau dalam kehidupan sehari-hari agar tidak punah. Dengan menjaga dialek dan tradisi lokal seperti Bahari Raya, identitas masyarakat Berau diharapkan tetap kokoh sebagai fondasi budaya di tengah arus modernisasi dan pembangunan Kalimantan Timur ke depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....