Melestarikan Tradisi Naik Ayun Banjar Sebagai Warisan Budaya di Era Modern
- 23 Apr 2026 13:38 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Budaya masyarakat Banjar memiliki kekayaan tradisi yang sangat mendalam, salah satunya adalah ritual "Naik Ayun" yang biasanya dilaksanakan saat bayi genap berusia 40 hari. Tradisi ini bukan sekadar seremoni keluarga biasa, melainkan sebuah bentuk rasa syukur dan doa yang dipanjatkan agar sang buah hati tumbuh menjadi pribadi yang saleh serta berbakti kepada orang tua.
Meskipun zaman terus berkembang menuju era digital, esensi dari tradisi ini tetap diupayakan agar tidak tergerus oleh budaya modern yang serba praktis. Ritual ini sering kali disatukan dengan acara tasmiah atau pemberian nama, di mana lantunan ayat suci Al-Qur'an dan shalawat Nabi menjadi bagian utama yang mengiringi prosesi sakral masuknya bayi ke dalam ayunan.
Pegiat budaya Banjar yang akrab disapa Acil Ewwi, menekankan pentingnya menjaga detail simbolis dalam tradisi ini agar maknanya tidak hilang. "Tradisi naik ayun ini kalau bisa jangan dihilangkan. Walau sekarang ada ayunan modern, hiasan khas seperti kain kuning tetap memiliki makna filosofis bagi masyarakat Banjar," ujarnya, dikutip Kamis 23 April 2026.
Dalam pelaksanaannya, ayunan bayi biasanya dihias dengan berbagai perlengkapan yang sarat akan makna kearifan lokal, mulai dari penggunaan kain kuning hingga gantungan buah-buahan. Kehadiran kain kuning melambangkan kemuliaan, sementara buah-buahan serta jajanan pasar yang digantung sering kali menjadi rebutan anak-anak yang hadir, menambah suasana meriah dan kekeluargaan.
Lebih lanjut, Acil Ewwi juga menjelaskan keterlibatan sesepuh atau tokoh agama sangat penting untuk memimpin jalannya ritual, terutama saat pemotongan beberapa helai rambut bayi. Prosesi ini diiringi dengan shalawat, mencerminkan harapan agar sang anak kelak memiliki akhlak yang meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah SAW dan mendapatkan keberkahan sepanjang hidupnya.
Tantangan terbesar saat ini adalah minimnya minat generasi muda untuk mempraktikkan ritual secara utuh karena dianggap terlalu rumit dibandingkan dengan cara modern. Namun, para praktisi budaya menyarankan agar modifikasi tetap dilakukan tanpa membuang nilai-nilai dasarnya, sehingga identitas budaya Banjar tetap melekat kuat pada generasi mendatang sebagai jati diri bangsa.
Sebagai penutup, program ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mempromosikan tradisi lokal melalui berbagai platform media sosial seperti TikTok dan YouTube. Dengan mendokumentasikan serta membagikan kegiatan budaya seperti Naik Ayun, diharapkan kearifan lokal ini tetap lestari dan menjadi kebanggaan yang tak lekang oleh waktu bagi masyarakat Kalimantan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....