Mengenal Makna Mendalam di Balik Filosofi Aksara Jawa Hanacaraka

  • 23 Apr 2026 13:24 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Aksara Jawa atau Hanacaraka bukan sekadar deretan huruf kuno, melainkan sebuah pusaka batin yang menyimpan rahasia perjalanan hidup manusia dari lahir hingga kembali ke Sang Pencipta. Melalui pemaparan mendalam mengenai kearifan lokal, aksara ini ditegaskan sebagai cermin spiritualitas yang menuntun setiap individu untuk memahami jati diri serta tanggung jawab moralnya di dunia.

Struktur aksara yang terdiri dari 20 huruf ini dibagi menjadi empat baris kalimat yang saling berkaitan, membentuk sebuah prosa kehidupan yang utuh. Filosofi ini mengajarkan setiap langkah manusia selalu diawasi oleh kekuatan yang lebih besar, sehingga kehati-hatian dalam bertindak menjadi kunci utama dalam meraih ketenangan batin.

Pegiat budaya Jawa yang akrab disapa Mbah Sapar, berbagi cerita kepada RRI dalam program Pantas Jawa di Pro 4 RRI Samarinda. Ia menjelaskan baris pertama Ha Na Ca Ra Ka mengandung makna yang sangat mendasar tentang eksistensi manusia.

"Artinya ada utusan. Utusan itu adalah napas kita, ruh kita yang dititipkan oleh Tuhan. Kita lahir ke dunia ini bukan tanpa alasan, melainkan membawa tugas untuk menyebarkan kebaikan," ujar Mbah Sapar saat menjelaskan makna bait tersebut, dikutip Kamis 23 April 2026.

Lebih lanjut, ia menguraikan bait kedua Da Ta Sa Wa La yang menggambarkan pergolakan batin dan konflik antar sesama manusia. Menurutnya, manusia sering kali terjebak dalam perselisihan karena mempertahankan ego masing-masing. Namun, esensi dari baris ini adalah peringatan bahwa manusia tidak akan bisa mengelak atau membantah jika garis takdir dan maut sudah menjemput.

Pada bagian Pa Dha Ja Ya Nya, Mbah Sapar menekankan tentang kesaktian atau kekuatan yang dimiliki setiap orang. Ia berpendapat bahwa setiap individu memiliki potensi besar, namun kekuatan tersebut harus digunakan secara selaras.

"Sama-sama sakti artinya ada keseimbangan. Kekuatan manusia harus dibarengi dengan pengendalian diri agar tidak menjadi sombong dan merugikan orang lain," katanya.

Selanjutnya bait penutup Ma Ga Ba Tha Nga yang menjadi pengingat paling reflektif bagi setiap pendengar. Pesan ini menegaskan bahwa pada akhirnya, semua atribut duniawi akan dilepaskan dan manusia akan menjadi mayat atau kembali ke tanah. Kesadaran akan kematian ini diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus mengumpulkan bekal amal kebaikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....