Pacu Jawi: Simbol Ketangkasan dan Syukur Petani Minangkabau

  • 23 Apr 2026 12:40 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Masyarakat Minangkabau di perantauan, khususnya di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kembali diingatkan akan kekayaan tradisi leluhur melalui ulasan mendalam mengenai Pacu Jawi. Tradisi balap sapi unik yang dilakukan di atas sawah berlumpur ini bukan sekadar perlombaan, melainkan wujud syukur petani setelah masa panen raya berakhir.

Berbeda dengan Karapan Sapi di Madura yang dilakukan di trek kering, Pacu Jawi memiliki keunikan tersendiri di mana sepasang sapi jantan berlari di lahan basah sepanjang 60 hingga 250 meter. Joki yang mengendalikan sapi tersebut harus berdiri di atas alat bajak yang disebut tajak, menunjukkan ketangkasan luar biasa agar tidak terjatuh ke dalam lumpur.

Uda Men, salah satu narasumber dalam dialog Pesona Antar Komunitas Minang pada hari Sabtu, dikutip Kamis 23 April 2026, menjelaskan tradisi ini memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat desa.

"Jawi atau sapi yang menang atau tampil sangat tangkas dalam pacu ini harganya bisa melonjak naik hingga 25 persen, bahkan bisa dua sampai tiga kali lipat dari harga pasar biasa," ujarnya.

Selain aspek ekonomi, narasumber lainnya, Uni Nel, menyoroti aturan unik dalam perlombaan ini yang sangat memperhatikan kesejahteraan hewan. Ia menegaskan sapi-sapi tersebut tidak boleh dipukul atau disakiti.

"Keunikan lainnya adalah joki terkadang menggigit ekor sapi agar lari lebih kencang karena rasa terkejut, namun tetap dalam batas yang tidak melukai hewan tersebut," ujar Uni Nel.

Dari sisi spiritual dan sosial, Uni Yet menambahkan Pacu Jawi adalah ajang silaturahmi akbar bagi warga nagari maupun perantau yang sedang pulang kampung. Menurutnya, acara ini merupakan ekspresi kegembiraan dan cara masyarakat mempererat tali persaudaraan sambil menikmati penganan tradisional di pinggir sawah.

Tradisi ini kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda nasional dan menjadi daya tarik wisata mancanegara. Biasanya, perhelatan ini digelar dua kali setahun, yakni pada periode Februari hingga April dan Agustus hingga Oktober, mengikuti siklus panen padi di wilayah Tanah Datar, Sumatera Barat.

Melalui pelestarian budaya seperti ini, nilai-nilai sportivitas, kerja keras, dan kearifan lokal Minangkabau diharapkan tetap terjaga meski zaman terus berganti. Pacu Jawi membuktikan bahwa harmoni antara manusia, hewan, dan alam dapat menciptakan sebuah atraksi budaya yang megah dan penuh makna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....