Legenda Landorundun: Kisah Rambut Sepanjang Sungai yang Menyatukan Toraja-Bone

  • 16 Mar 2026 15:13 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kekayaan budaya Nusantara tidak hanya terletak pada tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga pada nilai-nilai persatuan yang terkandung di dalamnya. Salah satu kisah legendaris yang kembali diangkat dalam program Pantas Bugis di RRI Samarinda adalah legenda Landorundun, seorang putri dari Tanah Toraja yang kecantikannya tersohor hingga ke Kerajaan Bone. Kisah ini bukan sekadar romansa, melainkan simbol perjanjian perdamaian antarwilayah di masa lampau.

Landorundun dikisahkan sebagai gadis yang lahir dengan keunikan luar biasa dari pasangan Solokang dan Lambe Susu di lereng Gunung Sesean. Keistimewaannya terletak pada rambutnya yang sangat panjang, bahkan diceritakan melilit tubuhnya saat ia baru lahir. Kecantikannya yang memukau menjadi daya tarik utama yang kemudian membawa perubahan besar bagi hubungan diplomatik dua kerajaan besar di Sulawesi.

Suatu pagi, saat Landorundun sedang membersihkan rambutnya di sungai, sehelai rambutnya terlepas dan hanyut dalam sebuah kulit jeruk. Helaian rambut tersebut terbawa arus hingga ke laut dan ditemukan oleh Raja Bone, Datuk Bendurana, yang sedang berlayar. Terpikat oleh keindahan untaian rambut tersebut, sang raja memerintahkan pasukannya untuk mencari pemiliknya hingga tiba di Lembah Rantepao.

Dalam siaran tersebut, narasumber Indo Siti menjelaskan pertemuan antara Datuk Bendurana dan Landorundun berujung pada sebuah ikatan pernikahan yang sakral. Namun, di balik pernikahan tersebut, terdapat perjanjian adat yang sangat kuat untuk saling melindungi.

"Setelah melalui tahapan adat, kedua belah pihak sepakat menyatukan Landorundun dan Datuk Bendurana dalam ikatan pernikahan. Sebagai bagian dari perjanjian, daerah Toraja dan Bone sepakat untuk saling membantu jika salah satu diserang musuh luar," ujar Indo Siti dikutip Senin, 16 Maret 2026.

Kisah ini juga memicu diskusi menarik mengenai latar belakang sejarah dan keberagaman di Sulawesi. Meskipun Toraja kini dikenal dengan mayoritas penduduk Nasrani dan Bone dengan Islam, legenda ini kemungkinan besar terjadi di masa prasejarah saat kepercayaan animisme masih kental. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan persaudaraan dan kerja sama antarwilayah telah terjalin jauh sebelum sekat-sekat administratif dan agama modern terbentuk.

Hingga kini, nama Landorundun tetap abadi dalam ingatan masyarakat sebagai simbol kecantikan yang membawa kedamaian. Melalui kisah ini, generasi muda diajak untuk menghargai warisan leluhur dan memahami bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang untuk menjalin persatuan dan persaudaraan yang erat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....