Menelusuri Jejak Wisata dan Kuliner Jawa pada Momentum Lebaran
- 16 Mar 2026 13:22 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Momentum Idul Fitri tidak hanya menjadi ajang silaturahmi bagi para perantau, tetapi juga untuk mengeksplorasi kekayaan wisata di Pulau Jawa. Dalam dialog interaktif Pantas Jawa di RRI Samarinda pada hari Kamis, 5 Maret 2026, terungkap, destinasi wisata sejarah dan alam tetap menjadi primadona bagi warga Kalimantan Timur asal Jawa yang merencanakan mudik tahun ini.
Kepala Stasiun RRI Samarinda, Siti Saraswulan, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyoroti pentingnya wisata sebagai sarana penyegaran diri setelah setahun bekerja. Ia menyebutkan bahwa kawasan Karisidenan Surakarta dan sekitarnya memiliki daya tarik luar biasa, mulai dari wisata prasejarah hingga pegunungan. Selain itu, ia mencontohkan Situs Sangiran di Sragen yang kini memiliki fasilitas perawatan fosil manusia purba yang sangat baik, serta keindahan Grojokan Sewu di Tawangmangu.
"Menawi wonten Sragen menika wonten Sangiran, fosil-fosil manusia purba menika sakenika pemeliharaanipun sampun sae sanget (Kalau di Sragen itu ada Sangiran, fosil manusia purba yang sekarang pemeliharaannya sudah sangat bagus)," ujar Siti Saraswulan.
Mbah Sapar menambahkan tradisi berwisata saat Lebaran sudah menjadi agenda rutin yang disebut dengan istilah klenceran. Menurutnya, momen ini biasanya dimulai pada hari kedua atau ketiga setelah hari raya Idulfitri bersama keluarga besar.
"Hari raya kedua, ketiga, keempat niku pasti para kadang pandemen pasti enten agenda-agenda jalan wisata, tradisinipun nggih klenceran (Hari raya kedua, ketiga, keempat itu pasti para pendengar punya agenda jalan-jalan wisata, tradisinya ya klenceran)," kata Mbah Sapar menjelaskan kebiasaan orang Jawa saat mudik.
Tak hanya soal tempat, Mbah Sapar juga menekankan wisata mudik tidak lengkap tanpa menikmati kuliner lokal yang otentik. Destinasi seperti Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri atau pantai-pantai di Yogyakarta seperti Parang Tritis dan Pantai Baron menjadi rujukan utama bagi mereka yang ingin melepas rindu pada suasana kampung halaman.
Dialog ini juga menjadi wadah bagi komunitas Jawa di Samarinda, seperti Paguyuban Gajah Mungkur, untuk saling bertukar informasi mengenai rencana perjalanan mereka. Meskipun telah menetap di Kalimantan, semangat untuk melakukan klenceran tetap tinggi sebagai bentuk menjaga keterikatan batin dengan tanah kelahiran.
Sebagai penutup, Siti Saraswulan dan Mbah Sapar berpesan agar para pemudik tetap mengutamakan keselamatan selama perjalanan. Mereka berharap momen wisata ini dapat menyegarkan pikiran sekaligus mempererat tali persaudaraan antaranggota keluarga yang lama tidak berjumpa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....