Suku Bajo Penyelam Handal Dari Indonesia

  • 28 Feb 2024 21:04 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda : Akhir akhir ini suku bajo sedang menjadi perbincangan hangat di kolom pencarian google bagaimana tidak keahlian mereka dalam menyelam menjadikan suku bajo mendapat julukan sebagai manusia ikan.
Suku bajo memiliki karakteristik kemaritiman yang kental disebabkan oleh lingkungan mereka yang dekat dengan perairan. Suku bajo terkenal dengan kehidupan mereka yang berpindah pindah tempat (nomaden) dan saat ini suku bajo tersebar luas di beberapa daerah perairan Maluku, Sulawesi, Kalimantan timur, nusa tenggara hingga pantai timur Sabah (Malaysia) dan kepulauan Sulu (Filipina).
Saat ini banyak dari suku bajo yang sudah menetap dengan membangun rumah diatas perairan dan dibuatkan jalan ke pemukiman mereka.


Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini adalah fakta menarik tentang suku bajo :


1. Kuat menyelam ke dasar laut tanpa alat bantu

Orang Bajo di kehidupan nyata dikenal kuat berenang dan menyelam dalam waktu panjang tanpa bantuan alat oksigen dan perlengkapan menyelam untuk mencari gurita atau ikan.
Penelitian Melissa Ilardo dkk menemukan para pengembara laut ini memiliki limpa yang telah mengalami adaptasi genetik dan fisiologis lewat seleksi alam. Ini membuat mereka memiliki penampungan oksigen yang lebih maksimal untuk menyelam, seperti dikutip dari Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads.

2. Hidup nomaden atau pengembara laut

Suku Bajo, atau suku Bajau, atau suku Sama-Bajau, merupakan suku pengembara laut terbesar yang tersisa di pulau-pulau Asia Tenggara, terutama di kawasan pantai Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Kini, orang Bajo dapat ditemui antara lain di Kendari (Sulawesi Tenggara), Kotabaru (Kalimantan Selatan), dan Derawan (Kalimantan Timur).
Karena memiliki kekuatan perdagangan di masa lalu, orang Bajo hidup nomaden di lautan, umumnya di atas rumah perahu, sambil menangkap ikan dan berdagang.
Di antara pelayaran mereka, orang Bajo terkadang menetap dan menikah dengan orang lokal. Kebiasaan ini disebut kreolisasi maritim, yakni proses orang Bajo mempertahankan budaya sambil berasimilasi dengan budaya setempat

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....