Sumber Air Mengering, BOSF Pasok Air Minum Orangutan

  • 03 Okt 2026 19:40 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Bukan hanya manusia yang merasakan tekanan musim kemarau. Di pusat rehabilitasi orang utan Kalimantan Timur, sumber air mulai mengering dan kebutuhan air bersih harus dipasok dari luar.

CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite pada RRI mengatakan, kondisi kesehatan orang utan sejauh ini masih relatif terkendali. Belum terdapat peningkatan kasus gangguan pernapasan selama musim kemarau.

“Di dalam musim kemarau ini yang paling berat buat kami adalah ketersediaan air. Saat ini sumber-sumber air sudah mengering,” ujar Jamartin, Sabtu 3 Oktober 2026.

Menurutnya, sumber air yang tersedia di sekitar pusat rehabilitasi sudah tidak layak digunakan sebagai air minum orang utan. BOSF terpaksa membeli air yang juga memenuhi standar konsumsi manusia untuk memenuhi kebutuhan satwa.

Sementara itu, dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan di pusat rehabilitasi. Bau asap terkadang cukup kuat terutama pada pagi hari.

“Walaupun dampak dari asap sudah mulai terasa di pusat rehabilitasi, kadang-kadang pagi bau asapnya cukup tinggi,” ucapnya.

Mengantisipasi gangguan pernapasan akibat asap, BOSF telah menyiapkan nebulizer dan sejumlah peralatan pendukung. Peralatan tersebut akan digunakan apabila kondisi udara memburuk dan mulai memengaruhi kesehatan orang utan.

Jamartin mengatakan, BOSF juga belum menemukan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada orang utan. Pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan perubahan kualitas udara tidak berdampak terhadap satwa.

Di luar pusat rehabilitasi, BOSF turut membantu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menangani orang utan yang terdampak karhutla. Penanganan dilakukan di wilayah utara Berau dan sekitar Muara Wahau.

Orang utan yang terdampak kemudian ditranslokasikan ke kawasan Restorasi Habitat Orang Utan Indonesia (RHOI) di Muara Wahau. Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan tempat yang lebih aman bagi satwa terdampak karhutla.

BOSF kini menyiapkan seluruh tim untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika kemarau berkepanjangan. Ancaman yang diantisipasi adalah kebakaran meluas hingga mendekati pusat rehabilitasi.

“Kami siap dengan semua tim kita untuk mengantisipasi kejadian terburuk yang akan terjadi kalau hujan tidak datang atau api merambat mendekati pusat rehab kita,” ujar Jamartin.

Ia berharap persiapan tersebut tidak sampai digunakan. Hujan yang segera turun dinilai menjadi kondisi yang paling diharapkan untuk menjaga ketersediaan air dan mengurangi ancaman karhutla terhadap orang utan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....