Perusahaan di China Izinkan Karyawan Cuti 10 Hari saat Sedang “Bad Mood”
- 21 Sep 2026 13:14 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi, sebuah perusahaan di China menjadi perhatian setelah memberikan kebijakan cuti yang cukup unik bagi karyawannya. Perusahaan tersebut mengizinkan pekerja mengambil cuti hingga 10 hari ketika mereka sedang merasa “bad mood” atau tidak berada dalam kondisi emosional yang baik. Kebijakan ini menjadi perbincangan karena memberikan ruang bagi karyawan untuk beristirahat tanpa harus memberikan alasan khusus terkait kondisi mereka.
Dikutip dari ohmeygatt, Sebuah perusahaan ritel di China, Pang Dong Lai, punya kebijakan unik: karyawan bisa mengambil hingga 10 hari cuti tambahan ketika sedang merasa tidak bahagia, cuti ini diperkenalkan pada 2024 oleh pendirinya, Yu Donglai, karyawan tidak perlu memberikan alasan atau surat dokter, bahkan pengajuannya tidak boleh ditolak oleh atasan, kebijakan ini masih berlaku hingga 2026 dan menjadi bagian dari pendekatan perusahaan yang menempatkan kesejahteraan karyawan sebagai hal penting dalam bekerja.
Kebijakan tersebut berangkat dari gagasan bahwa kondisi emosional karyawan juga dapat memengaruhi produktivitas dan suasana kerja. Ketika seseorang merasa lelah, stres, atau kehilangan motivasi, memaksanya untuk terus bekerja belum tentu menghasilkan kinerja yang optimal. Dengan memberikan waktu istirahat, perusahaan berharap karyawan dapat memulihkan energi dan kembali bekerja dalam kondisi yang lebih siap.
Berbeda dengan cuti sakit yang umumnperusaya membutuhkan alasan medis, cuti karena “bad mood” lebih menekankan pada kebutuhan pribadi dan emosional pekerja. Karyawan tidak diwajibkan menjelaskan secara rinci alasan mengapa mereka sedang tidak ingin bekerja. Konsep ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap kesejahteraan pekerja, terutama mengenai pentingnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Kebijakan tersebut juga memunculkan diskusi mengenai budaya kerja di China yang selama ini kerap dikenal memiliki jam kerja panjang dan tuntutan produktivitas tinggi. Dengan memberikan kesempatan untuk mengambil jeda ketika kondisi mental sedang tidak baik, perusahaan mencoba menciptakan lingkungan kerja yang lebih fleksibel. Langkah semacam ini juga dapat menjadi bentuk perhatian perusahaan terhadap kebutuhan karyawan di luar target dan pencapaian pekerjaan.
Bagi karyawan, keberadaan cuti seperti ini bisa memberikan kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas yang membantu memulihkan suasana hati. Mereka dapat menggunakan waktu tersebut untuk beristirahat di rumah, berkumpul bersama keluarga, melakukan hobi, bepergian, atau sekadar menjauh sejenak dari rutinitas pekerjaan. Tidak adanya kewajiban untuk mengungkapkan alasan secara detail juga memberikan ruang privasi bagi pekerja.
Namun, penerapan cuti “bad mood” tentu membutuhkan aturan yang jelas agar tidak mengganggu operasional perusahaan. Manajemen perlu mengatur mekanisme pengajuan, pembagian tugas, serta koordinasi antarpegawai ketika seseorang mengambil cuti. Di sisi lain, karyawan juga perlu menggunakan hak tersebut secara bertanggung jawab agar kebijakan tetap dapat berjalan dan memberikan manfaat bagi kedua pihak.
Kebijakan cuti 10 hari saat sedang “bad mood” pada akhirnya menunjukkan bagaimana dunia kerja mulai melihat kesejahteraan karyawan dari sudut pandang yang lebih luas. Bekerja bukan hanya soal memenuhi target, tetapi juga menjaga kondisi diri agar dapat menjalankan pekerjaan secara berkelanjutan. Jika diterapkan dengan aturan yang tepat, konsep ini dapat menjadi salah satu bentuk fleksibilitas kerja yang menarik di tengah perubahan budaya kerja modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....