Jangan Cuma Lindungi Hidung, Ketahui Bahaya Partikel Asap Karhutla pada Mata

  • 17 Sep 2026 14:32 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Masker terbukti mampu melindungi saluran pernapasan, namun mata tetap rentan terpapar udara panas, gas beracun, dan partikel PM2.5. Kombinasi polutan tersebut dapat merusak lapisan air mata secara drastis saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan melanda.

Organ penglihatan menjadi "korban" pertama kebakaran hutan karena organ ini memiliki lapisan pelindung terbuka yang langsung berinteraksi dengan udara luar tanpa adanya penghalang fisik seperti bulu hidung. Berdasarkan keterangan resmi Dr. Alfian selaku Pakar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi dari Universitas Airlangga, komponen paling berbahaya dalam asap karhutla adalah Particulate Matter 2.5 yang memiliki sifat iritatif tinggi dan memicu stres oksidatif.

Partikel super kecil tersebut menempel pada air mata, melebarkan pembuluh darah hingga memicu mata merah atau konjungtivitis iritatif, rasa perih seperti kemasukan pasir, dan mata berair berlebihan. Penelitian di jurnal medis peer-reviewed Translational Vision Science & Technology menunjukkan terjadinya lonjakan sitokin pro-inflamasi, khususnya konsentrasi interleukin-1β di dalam cairan mata sesaat setelah terpapar asap. Hal ini menjelaskan secara ilmiah mengapa mata langsung memerah akibat pelebaran pembuluh darah mikro sebagai respons pertahanan terhadap zat beracun.

Selain itu, udara panas dan polusi asap merusak kualitas lapisan cairan mata atau 'tear film'. Akibatnya, air mata lebih cepat menguap, membuat mata terasa sepet, lelah, hingga pandangan kabur. Studi eksperimental dalam jurnal tersebut membuktikan secara klinis bahwa paparan jangka pendek dari asap kebakaran secara langsung merusak stabilitas air mata.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, atau yang dikenal sebagai CDC melalui panduan keselamatan kerja NIOSH, mengategorikan iritasi mata sebagai dampak kesehatan akut yang paling pertama muncul. Laporan riset dari University of New South Wales mengenai dampak asap karhutla mengungkapkan bahwa paparan ini tidak merata dampaknya. Kelompok wanita memiliki peluang risiko mengalami iritasi mata dua kali lebih tinggi dibanding pria.

Selain itu, anak-anak dengan riwayat asma memiliki risiko mengalami mata gatal dan berair hingga sembilan kali lipat lebih tinggi saat terjadi kebakaran hutan di wilayah mereka. Merujuk pada penelitian epidemiologi dalam Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas, ditemukan adanya korelasi statistik yang sangat kuat antara lonjakan angka Indeks Standar Pencemar Udara dengan peningkatan drastis kasus iritasi mata di fasilitas kesehatan.

Masyarakat di wilayah terdampak harus menghindari kesalahan fatal seperti mengucek mata saat partikel asap menempel karena dapat menggores kornea dan memicu infeksi bakteri berbahaya. "Gunakan kacamata rapat atau kacamata hitam sebagai perisai fisik saat terpaksa keluar rumah," kata Dr. Alfian dalam panduan kesehatan respirasi.

Langkah pertolongan pertama lainnya adalah meneteskan air mata buatan bebas pengawet untuk membilas partikel abu halus dan mengembalikan kelembapan. CDC secara tegas merekomendasikan masyarakat untuk menghentikan pemakaian lensa kontak karena material tersebut bertindak sebagai perangkap fisik yang mengunci partikel mikro di permukaan kornea. Pembilasan wajah dan mata menggunakan air mengalir bersih juga sangat dianjurkan apabila rasa perih menyerang secara berlebihan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....