Akhlak dan Pengendalian Diri Jadi Bekal Hadapi Ujian

  • 22 Sep 2026 06:53 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta - Akhlak tidak hanya berkaitan dengan hubungan seseorang dengan orang lain, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri saat menghadapi gangguan dan masalah. Kekuatan seseorang tidak semata-mata diukur dari kemampuan fisik, tetapi juga dari kemampuannya menguasai diri ketika marah.

Ustaz Habib Taufiq Aseggaf menjelaskan, kesabaran dan kemampuan menahan diri merupakan bagian dari hilm, yakni sikap santun, tenang, dan mampu mengendalikan emosi. Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Selasa 22 September 2026, ia mengatakan gangguan dari sesama manusia kerap menjadi ujian dalam kehidupan, mulai dari cacian, fitnah, tuduhan hingga prasangka buruk.

Menurutnya, menghadapi berbagai gangguan tersebut membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati. Para nabi juga menghadapi berbagai bentuk gangguan dari keluarga, masyarakat, maupun kaumnya sehingga kesabaran mereka menjadi teladan bagi umat dalam menghadapi ujian kehidupan.

"Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, seseorang tidak dilarang mencari nasihat atau motivasi dari guru maupun orang yang lebih berpengalaman. Hal tersebut justru dapat menjadi sarana untuk memperkuat keteguhan hati," kata Habib Taufiq Aseggaf.

Dalam sesi tanya jawab, ia juga menanggapi pertanyaan mengenai kebiasaan merayakan ulang tahun. Menurutnya, bertambahnya usia sebaiknya dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi diri, bukan sekadar dirayakan melalui kegiatan seremonial.

Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat kembali kualitas ibadah dan amal selama satu tahun terakhir. Misalnya, dengan menghitung frekuensi membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an, memperbanyak selawat, menghafal hadis, menyelesaikan kajian kitab, serta menjaga keistiqamahan dalam beribadah.

"Yang hilang itu umur. Umur kita berharga karena nanti akan dipertanggungjawabkan di akhirat," ujar Habib Taufiq Aseggaf.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan memberikan gelar atau predikat keagamaan kepada seseorang tanpa mempertimbangkan kapasitas dan keilmuannya. Penghormatan kepada ulama, menurutnya, tetap perlu dijaga, tetapi penyematan gelar harus memperhatikan konteks dan sejarah penggunaannya agar makna penghormatan tidak berkurang.

Hal serupa, kata dia, berlaku dalam persoalan nasab. Penetapan nasab merupakan bidang yang membutuhkan keahlian khusus sehingga tidak semestinya dilakukan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan mengenai ilmu nasab.

Prinsip tersebut juga berlaku dalam persoalan agama secara umum. Jika seseorang tidak mengetahui suatu persoalan, ia sebaiknya bertanya kepada orang yang memiliki keahlian, bukan menyampaikan pendapat berdasarkan dugaan atau sekadar mengikuti perdebatan.

Habib Taufiq Aseggaf turut mengutip perkataan Imam Syafi'i mengenai perdebatan dengan orang berilmu dan orang yang tidak memahami ilmu. Menurutnya, perdebatan dengan orang berilmu memiliki ukuran keilmuan, sedangkan perdebatan dengan orang yang tidak berilmu berisiko berubah menjadi pertengkaran yang tidak berujung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....