Solusi Bebas Bau Apek: Panduan Jemur Pakaian Indoor saat Karhutla Melanda
- 17 Sep 2026 20:11 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Langit Kalimantan Timur yang mulai dipenuhi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan memicu tantangan baru bagi warga, khususnya dalam urusan menjemur pakaian di luar ruangan. Ketika partikel abu halus beracun atau partikel PM2.5 serta jelaga melayang di udara, kegiatan mencuci dan mengeringkan pakaian memerlukan perhatian khusus agar kesehatan tetap terjaga. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta dinas lingkungan hidup setempat mencatat bahwa kabut asap karhutla didominasi oleh partikel yang sangat halus dan mudah terikat pada serat kain basah.
"Jika Anda tetap nekat menjemur pakaian di luar, partikel beracun ini akan menempel erat pada serat kain yang basah," ujar praktisi kesehatan masyarakat dalam panduan mitigasi polusi. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menjelaskan bahwa paparan polutan karhutla pada benda yang menempel langsung ke tubuh, seperti pakaian, dapat memicu iritasi kulit, dermatitis, serta memperparah risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Memindahkan aktivitas pengeringan ke dalam ruangan atau indoor drying kini menjadi protokol kesehatan yang mendesak bagi warga Samarinda.
Untuk menyiasati pengeringan tanpa memicu bau apek dan kelembapan berlebih di dalam rumah, warga dapat memanfaatkan kipas angin untuk mengalirkan udara secara konstan. Selain itu, penggunaan mode dry pada pendingin udara (AC) atau dehumidifier terbukti efektif menarik uap air dari pakaian basah dan mengondensasikannya secara konsisten. Panduan operasional dari Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) juga menyarankan agar warga memaksimalkan putaran mesin cuci atau extra spin guna mengurangi kadar air residual seminimal mungkin sebelum pakaian digantung di dalam ruangan.
Dalam proses pencucian, penambahan bahan alami seperti cuka putih dapat diandalkan untuk menetralisir aroma tidak sedap. Pakar kebersihan dari AspenClean menyatakan bahwa asam asetat ringan di dalam cuka putih bertindak sebagai pemecah alami untuk molekul tar, minyak, dan senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik yang menjadi komponen utama bau sangit asap. Selain itu, penambahan baking soda atau natrium bikarbonat di awal siklus pencucian berfungsi sebagai penetral pH serta deodoran alkali alami untuk mengangkat partikel abu halus.
Langkah manajemen mencuci yang tepat selama musim kabut asap juga meliputi pengurangan porsi cucian agar kapasitas jemuran di dalam ruangan tidak terlalu padat. Dengan menerapkan strategi mencuci dan menjemur indoor yang tepat, pakaian warga Samarinda dipastikan tetap bersih, higienis, dan bebas bau apek di tengah kepungan polusi udara. Upaya preventif ini diharapkan mampu melindungi masyarakat dari ancaman gangguan kesehatan selama periode darurat karhutla berlangsung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....