Belajar Akhlak Nabi dari Sikap Memaafkan dan Sabar
- 22 Sep 2026 06:57 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Solo - Nabi Muhammad SAW merupakan teladan bagi umat manusia, baik dalam akhlak maupun cara menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Meneladani Rasulullah SAW tidak berarti harus mampu mencapai kesempurnaan Nabi, tetapi berusaha mengikuti ajaran dan akhlaknya sesuai kemampuan masing-masing.
Dikutip dari kanal YouTube Ustaz Habib Muhammad Alhabsy, Selasa 22 September 2026, ia menjelaskan manusia memiliki keterbatasan sehingga tidak mungkin meniru Rasulullah SAW secara mutlak dalam seluruh aspek kehidupan. Menurutnya, yang terpenting adalah tetap berada di jalur keteladanan Nabi dan tidak menyimpang dari prinsip-prinsip yang diajarkan Rasulullah SAW.
Ia mencontohkan sikap Rasulullah SAW ketika menghadapi orang yang memusuhi atau menyakiti. Dalam kondisi tertentu yang berkaitan dengan pelanggaran hukum, ancaman terhadap agama, atau keamanan masyarakat, Nabi SAW dapat bersikap tegas. Namun, ketika permusuhan lebih bersifat pribadi, Rasulullah SAW banyak menunjukkan sikap pemaaf.
"Salah satu contoh nyata adalah ketika menghadapi orang yang memusuhi atau menyakiti. Rasulullah SAW tidak selalu merespons dengan satu cara yang sama. Dalam beberapa kondisi, terutama yang berkaitan dengan pelanggaran hukum dan ancaman terhadap agama serta keamanan masyarakat, Rasulullah SAW menegakkan hukum secara tegas," ujar Habib Muhammad Alhabsy.
Menurutnya, sikap Rasulullah SAW saat Fathu Makkah menjadi salah satu contoh keluasan hati dalam memaafkan. Ketika penduduk Makkah yang pernah menyakiti, mengusir, dan memerangi Rasulullah SAW berada dalam posisi lemah, Nabi SAW tidak menjadikan kesempatan tersebut sebagai ajang balas dendam. Rasulullah SAW justru memberikan pengampunan dan membebaskan mereka.
Ia mengatakan, umat Islam yang belum mampu mencapai tingkat pemaafan seperti Rasulullah SAW setidaknya dapat belajar menahan diri, tidak membalas keburukan dengan keburukan yang lebih besar, serta berusaha melepaskan dendam. "Meneladani Nabi tidak berarti harus langsung mampu berbuat baik kepada orang yang menyakiti kita. Jika belum mampu sampai pada tingkat itu, setidaknya berusahalah untuk memaafkan dan tidak terus-menerus menyimpan dendam," ucapnya.
Habib Muhammad Alhabsy juga mencontohkan kesabaran Rasulullah SAW dalam kehidupan rumah tangga. Ketika Nabi Muhammad SAW pulang dan bertanya apakah tersedia makanan, kemudian mendapat jawaban tidak ada, Nabi SAW tidak marah atau mengeluh, tetapi memilih berpuasa. Menurutnya, setiap muslim tidak harus langsung mampu meniru seluruh kebiasaan ibadah Rasulullah SAW, tetapi dapat belajar dari kesabaran dan kelembutan Nabi. Meneladani Rasulullah SAW, kata dia, seperti mengikuti rel kereta menuju tujuan yang benar. Kecepatan setiap orang boleh berbeda, tetapi yang penting tetap berada di jalur akhlak dan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....