Amar Makruf Nahi Mungkar Ditinjau dari Neurosains
- 17 Sep 2026 07:13 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Fenomena sosial menunjukkan bahwa masyarakat cenderung lebih mudah diajak berbuat kebaikan seperti bersedekah dibandingkan diajak melawan kezaliman dan kejahatan. Penjelasan ilmiah mengenai dinamika psikologis dan mekanisme otak manusia di balik fenomena ini dipaparkan oleh Ustaz Masumi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim dalam program Mutiara Pagi di Pro1 RRI Samarinda, Kamis 17 September 2026.
Ustaz Masumi menyoroti realitas di lapangan di mana aksi kepedulian sosial, seperti menggalang bantuan bencana alam untuk daerah terdampak, dapat terkumpul dengan sangat cepat dan masif. Namun, ketika dihadapkan pada kewajiban mencegah kejahatan seperti perjudian, pengguna narkoba, perzinaan, hingga korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, banyak orang justru memilih berdiam diri.
Guna menjelaskan alasan di balik sikap pasif tersebut, Ustaz Masumi mengutip literatur neurosains karya Taufiq Fredrik Pasiak yang berjudul The 7 Laws of the Brain. Dalam buku tersebut dibahas hukum kerja otak yang disebut “Law of Threat Brain”, yang menjelaskan bahwa otak manusia secara alamiah dirancang untuk mendeteksi serta menghindari ancaman kerugian.
"Bagaimana ketika seseorang hendak melawan ketidakadilan, kezaliman, keburukan, kejahatan, otak kemudian segera melakukan proses hitung-menghitung berbagai risiko yang bisa saja timbul. Otak mengingatkan kehilangan pekerjaan misalnya, awas bisa dijauhi teman, awas kau bisa diserang di media sosial, bahkan boleh jadi muncul kekhawatiran adanya ancaman terhadap keselamatan diri dan keluarga," ujarnya.
Kondisi perhitungan risiko oleh otak ini sering kali memicu rasa takut yang akhirnya mengalahkan dorongan moral individu untuk melakukan penindakan nahi mungkar. Selain faktor kerja otak, fenomena ini diperkuat oleh konsep psikologi sosial yang dikenal sebagai bystander effect atau efek penonton.
"Ketika banyak orang menyaksikan suatu kezaliman, kejahatan, kan justru setiap individu merasa orang lainlah yang pantas bertindak. Karena itu kejahatan, kezaliman, keburukan sering kali bertahan cukup lama bukan karena pelakunya sangat kuat, melainkan karena terlalu banyak orang baik yang memilih menjadi diam dan sebagai penonton," katanya.
Ia menekankan, keberlanjutan suatu peradaban sangat bergantung pada keberanian. Peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang gemar berbuat kebaikan, tetapi dapat bertahan karena hadirnya sebagian kecil manusia berani menyuarakan kebenaran dan menolak kezaliman di saat mayoritas lainnya memilih diam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....