Tiga Pesan Utama Rasulullah saat Hadapi Kesulitan Ekonomi

  • 14 Sep 2026 07:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kondisi perekonomian yang belum stabil di tengah musim kemarau panjang di Kalimantan Timur turut memberikan tekanan bagi masyarakat. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok membuat sebagian masyarakat harus semakin bijak dalam mengatur pengeluaran.

Kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli dan menimbulkan kekhawatiran dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan keluarga. Menyikapi situasi tersebut, ulama Kota Samarinda, Ustaz Muhammad Khozin, mengajak umat Islam untuk menghadapi kesulitan ekonomi dengan perspektif keimanan.

Hal itu disampaikan Ustaz Khozin dalam siaran Mutiara Pagi, Jumat 11 September 2026. Menurutnya, situasi ekonomi yang berat bukan alasan untuk berputus asa. Rasulullah SAW telah memberikan teladan kepada umat Islam dalam menghadapi berbagai kondisi sulit, termasuk ketika masyarakat mengalami tekanan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

“Dalam kitab Kanzul Umal mencatat bahwa masyarakat Madinah di era Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga pernah menghadapi inflasi dan situasi kesulitan ekonomi yang sangat hebat. Namun, menghadapi kondisi kritis itu, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tidak mengajarkan keputusasaan, melainkan membimbing umat untuk bersabar,” kata Ustaz Khozin.

Salah satu nilai penting yang dapat diteladani adalah keberkahan dalam kebersamaan. Rasulullah SAW memberikan gambaran bahwa makanan yang semula diperkirakan hanya cukup untuk satu orang dapat mencukupi dua orang ketika dinikmati bersama. Begitu pula makanan untuk dua orang dapat mencukupi empat orang, bahkan makanan untuk empat orang dapat dinikmati oleh lebih banyak orang.

Pesan tersebut menunjukkan pentingnya berbagi dan meyakini adanya keberkahan ketika kebutuhan hidup dibagi bersama dengan sesama.

Menurut Ustaz Khozin, terdapat tiga sikap utama yang penting diterapkan ketika menghadapi kesulitan ekonomi, yakni kesabaran, optimisme, dan kebersamaan.

Kesabaran diperlukan agar seseorang tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan kehidupan. Optimisme menjaga seseorang tetap memiliki harapan sekaligus mendorongnya untuk terus berusaha mencari jalan keluar. Sementara itu, kebersamaan menjadi kekuatan sosial untuk saling membantu dalam menghadapi kesulitan.

“Kesulitan ekonomi tidak boleh menjadikan kita saling menjatuhkan, memutus silaturahmi, atau hanya memikirkan diri sendiri. Justru pada saat seperti inilah semangat gotong royong, saling membantu, dan berbagi kepada sesama harus semakin diperkuat,” ujarnya.

Ketika kesulitan dihadapi dengan kesabaran, optimisme, dan kebersamaan, beban kehidupan diharapkan dapat terasa lebih ringan. Nilai yang dicontohkan Rasulullah SAW tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah kondisi sulit sekalipun, selalu ada ruang untuk berbagi, saling menguatkan, dan mencari keberkahan dari Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....