Kisah Wali Allah dan Keberkahan Orang Saleh

  • 14 Sep 2026 17:02 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta – Para wali Allah digambarkan sebagai hamba yang dekat dengan Allah SWT karena ketakwaan dan penghambaan mereka. Dalam kajian keislaman, kisah tentang para wali kerap disampaikan sebagai teladan untuk mengingatkan umat agar mengutamakan Allah dan memperbanyak kedekatan dengan orang-orang saleh.

Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Senin 14 September 2026, Habib Jindan bin Novel mengisahkan cerita yang disampaikan ulama salaf tentang sebuah negeri yang mengalami kemarau panjang. Masyarakat telah beberapa kali melaksanakan salat istisqa, tetapi hujan belum juga turun.

Di tengah kondisi tersebut, seorang musafir datang dan mengetahui masyarakat akan melaksanakan salat istisqa. Ia meminta izin untuk berdoa terlebih dahulu dan meminta mereka mengaminkannya. "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan yang ada di dalam kepalaku agar Engkau menurunkan hujan kepada kami," ujar doa yang dikisahkan Habib Jindan.

Orang-orang yang mendengar doa itu merasa heran dan mempertanyakan maksud ucapan sang musafir. Tidak lama kemudian, hujan deras turun. Ketika ditanya mengenai rahasia doanya, musafir tersebut, dalam kisah yang disampaikan, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "kemuliaan di dalam kepalanya" adalah sepasang mata yang pernah melihat wajah Al-Imam Abu Yazid Al-Bustami.

Habib Jindan mengatakan kisah tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya berkumpul dengan orang-orang saleh. "Bagaimana mungkin seseorang menjadi beruntung jika ia tidak pernah duduk bersama orang-orang yang beruntung," ujar Habib Jindan. Karena itu, umat dianjurkan menghadiri majelis ilmu, majelis zikir, dan mempererat hubungan dengan orang-orang yang dikenal saleh.

Ia juga mengutip penjelasan Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad bahwa para wali merupakan hamba Allah yang tidak menjadikan nafsu, harta, maupun kedudukan sebagai tujuan hidup. Mereka mengutamakan apa yang dicintai Allah dibandingkan kepentingan diri sendiri. Sikap itulah yang menjadi bagian dari keteladanan mereka dalam menjalani kehidupan.

Dalam kajian tersebut turut disampaikan kisah ulama dari keluarga Al-Attas, termasuk Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas. Dalam penuturannya, beliau pernah menghadapi penentangan ketika berdakwah di sejumlah daerah. Bahkan, hewan tunggangannya disebut mendapat perlakuan buruk dari sebagian masyarakat. Namun, beliau tidak membalas dengan kemarahan dan memilih tetap melanjutkan perjalanan dakwah.

Kisah para wali dan ulama saleh tersebut mengajarkan bahwa kemuliaan tidak semata-mata diukur dari kekayaan, kedudukan, atau pengakuan manusia. Ketakwaan, kesabaran, keikhlasan, kecintaan kepada ilmu, serta kesungguhan dalam mengajak kepada kebaikan menjadi nilai yang ditekankan. Dalam kajian itu juga dipanjatkan doa agar Allah SWT menurunkan rahmat, mengangkat bala dan musibah, serta memberikan hujan yang membawa keberkahan bagi negeri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....