Majelis Zikir dan Rahasia Hamba yang Tak Dikenal
- 14 Sep 2026 16:52 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Kalsel – Menghadiri majelis zikir dan selawat seharusnya menjadi ruang untuk menumbuhkan kerendahan hati, bukan merasa lebih mulia dari orang lain. Kehormatan di sisi Allah SWT tidak ditentukan oleh siapa yang berbicara di depan, memegang mikrofon, atau paling dikenal jamaah. Para ulama justru mengajarkan agar setiap orang memandang dirinya sebagai hamba yang memiliki banyak kekurangan dan senantiasa membutuhkan rahmat Allah SWT.
Dikutip dari kanal YouTube Al Wafa Tarim, Senin 14 September 2026, Ustaz Al Habib Hasan bin Ismail Al Muhdhor mengatakan salah satu rahasia keberkahan majelis terletak pada berkumpulnya amal saleh dan niat baik para jamaah. Selawat yang dibaca seseorang bertemu dengan selawat jamaah lainnya, begitu pula zikir, kekhusyukan, dan doa yang dipanjatkan. Berbagai amal tersebut berkumpul dalam satu majelis yang diharapkan mendapat rahmat dan keberkahan Allah SWT.
Menurut Habib Hasan, niat baik para jamaah juga menjadi bagian penting dalam keberkahan majelis. Ada yang datang untuk berzikir, memperbanyak selawat kepada Rasulullah SAW, mencari ilmu, bersilaturahmi, atau sekadar berkumpul dengan sesama Muslim. Ia mengutip nasihat Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas, "Walau qubilat niyyatun wahidatun kafat," yang bermakna apabila satu niat saja diterima Allah SWT, hal itu dapat menjadi sebab diterimanya amal dan doa jamaah lainnya.
Habib Hasan mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu keistimewaan majelis zikir, selawat, dan haul. Sebab, jamaah tidak mengetahui siapa di antara mereka yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Bisa jadi seseorang yang duduk di sudut majelis, tidak dikenal, dan tampak sederhana justru memiliki hati yang bersih serta dekat dengan Allah. "Para ulama juga mengingatkan bahwa Allah sering kali menyembunyikan para wali-Nya di tengah manusia. Tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa yang paling mulia di sisi Allah. Oleh sebab itu, seorang mukmin diperintahkan untuk selalu berbaik sangka kepada sesama dan tidak meremehkan siapa pun," kata Habib Hasan.
| Baca juga: Menyadari Barokah dalam Kehidupan |
Pelajaran serupa tergambar dalam kisah Nabi Musa AS ketika menghadapi musim kemarau panjang. Saat hujan tidak kunjung turun, Nabi Musa AS bersama kaumnya melaksanakan salat istisqa dan berdoa kepada Allah SWT. Dalam kisah yang disampaikan Habib Hasan, Allah SWT kemudian memberitahukan bahwa hujan akan turun melalui doa seorang hamba bernama Barakh. Sosok tersebut bukan orang terkenal ataupun terpandang di tengah masyarakat, tetapi doanya memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan manusia tidak dapat diukur dari pakaian, jabatan, keturunan, popularitas, atau kedudukannya di tengah masyarakat. Karena itu, jamaah hendaknya tidak meremehkan siapa pun yang hadir dalam majelis. Bisa jadi keberkahan yang dirasakan seluruh jamaah justru datang melalui doa seorang hamba yang tidak dikenal manusia, tetapi memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Sikap tawaduk dan berbaik sangka kepada sesama menjadi bagian penting dalam menjaga adab di majelis kebaikan.
"Majelis zikir bukan hanya tempat berkumpulnya manusia, melainkan tempat bertemunya amal-amal saleh, niat-niat yang baik, dan rahmat Allah yang turun kepada para hamba-Nya. Semoga Allah menjadikan setiap majelis yang kita hadiri sebagai sebab diterimanya amal, diampuninya dosa, dan bertambahnya kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya SAW," ucap Habib Hasan bin Ismail Al Muhdhor.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....