Kisah Pemuda Rajin Ibadah yang Terjebak Ghibah
- 14 Sep 2026 16:49 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta – Imam al-Qusyairi meriwayatkan kisah dari Imam Abu Ja'far al-Balkhi tentang seorang pemuda yang dikenal rajin beribadah. Ia bersungguh-sungguh menjalankan berbagai ketaatan. Namun, di balik kesalehan lahiriahnya, pemuda tersebut memiliki kebiasaan buruk, yakni gemar menggunjing dan membicarakan keburukan orang lain.
Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Senin 14 September 2026, Ustaz Habib Alwi bin Abdurrahman Al Habsyi menceritakan, suatu hari Imam Abu Ja'far al-Balkhi melihat pemuda tersebut berada di tengah kelompok yang sedang mencuci pakaian. Setelah pemuda itu keluar, Imam Abu Ja'far kemudian menanyakan keadaannya.
Pemuda tersebut mengungkapkan bahwa kondisi buruk yang dialaminya tidak terlepas dari kebiasaannya menggunjing orang lain. Ia menyadari bahwa perbuatan tersebut membawa dampak buruk dalam kehidupannya. Bahkan, ia merasa amal dan perjuangan ibadah yang selama ini dijalankannya seakan sirna sehingga meminta didoakan agar Allah SWT memberikan rahmat dan pertolongan.
Menurut Habib Alwi, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa banyaknya ibadah belum cukup jika tidak disertai kemampuan menjaga lisan. Salat, puasa, zikir, dan berbagai amal kebaikan perlu berjalan seiring dengan akhlak yang baik serta sikap menghormati kehormatan orang lain. "Ghibah dapat merusak hubungan antarsesama dan membawa kerugian bagi pelakunya. Karena itu, menjaga lisan merupakan bagian penting dari menjaga kualitas ibadah," ujar Habib Alwi.
Ia mengatakan, seorang Muslim sebaiknya menghindari pembicaraan yang berisi keburukan orang lain. Sebaliknya, lisan dapat digunakan untuk memperbanyak zikir dan selawat, menyampaikan nasihat dalam kebaikan, serta mengucapkan perkataan yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Habib Alwi menilai kemampuan menjaga lisan juga berkaitan erat dengan pengendalian diri. Ketika menghadapi kesalahan atau keburukan orang lain, seseorang tidak seharusnya membalas dengan perbuatan serupa. Sikap menahan emosi dan memilih kebaikan menjadi bagian dari akhlak yang diajarkan para ulama dan orang-orang saleh.
"Dengan demikian, pelajaran utama dari kisah para ulama tersebut adalah pentingnya mengendalikan emosi, menjaga lisan, serta membalas keburukan dengan kebaikan. Sebab, kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga akhlaknya ketika menghadapi perlakuan buruk dari orang lain," kata Habib Alwi bin Abdurrahman Al Habsyi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....