Ghibah Dapat Menghapus Pahala, Ulama Ingatkan Bahayanya

  • 14 Sep 2026 16:45 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta – Ghibah atau menggunjing orang lain bukan hanya dapat menyakiti hati dan merusak hubungan antarsesama. Dalam nasihat para ulama, ghibah juga menjadi perbuatan yang dapat menghilangkan pahala amal kebaikan. Kebiasaan membicarakan keburukan orang lain menjadi pengingat pentingnya menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari.

Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Senin 14 September 2026, Ustaz Habib Alwi bin Abdurrahman Al Habsyi menjelaskan gambaran bahaya ghibah melalui kisah Imam Hasan al-Bashri. Suatu ketika, seseorang datang dan memberitahukan bahwa ada orang yang telah menggunjing Imam Hasan al-Bashri. Alih-alih marah, beliau justru mengirimkan nampan berisi manisan kepada orang yang menggunjingnya.

Habib Alwi mengatakan, ketika ditanya mengenai sikap tersebut, Imam Hasan al-Bashri menjelaskan bahwa ia mendengar orang itu telah "menghadiahkan" pahala amalnya melalui ghibah. "Telah sampai kepadaku bahwa engkau menghadiahkan pahala-pahalamu kepadaku. Maka aku pun ingin membalasnya semampuku," ujar Imam Hasan al-Bashri. Kisah tersebut menggambarkan cara seorang ulama menghadapi keburukan tanpa membalasnya dengan keburukan.

Menurut Habib Alwi, sikap tersebut mencerminkan kematangan akhlak dan keluasan ilmu. Orang yang memiliki ilmu tidak mudah dikendalikan emosi, ego, dan hawa nafsu ketika menghadapi perlakuan buruk. "Sikap seperti ini merupakan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan para nabi dan orang-orang saleh. Mereka memiliki sifat santun, penyayang, serta tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai alasan untuk melakukan keburukan pula," ujar Habib Alwi.

Kisah serupa juga dinisbatkan kepada sejumlah ulama, seperti Imam Junaid al-Baghdadi, Imam Sahl bin Abdullah at-Tusturi, dan Imam Abu Yazid al-Bustami. Ketika menghadapi perlakuan buruk, mereka diceritakan tidak membalas dengan keburukan, tetapi justru mendoakan orang yang berbuat salah agar mendapatkan kebaikan. Akhlak tersebut menjadi teladan tentang pentingnya mengendalikan diri ketika menghadapi perlakuan yang menyakitkan.

Habib Alwi kemudian menyampaikan kisah yang diriwayatkan Imam al-Qusyairi dari Imam Abu Ja'far al-Balkhi tentang seorang pemuda yang dikenal rajin beribadah. Di balik kesalehan lahiriahnya, pemuda tersebut memiliki kebiasaan menggunjing dan membicarakan keburukan orang lain. Pada akhirnya, ia menyadari kebiasaan tersebut telah membawa dampak buruk dalam kehidupannya dan merasa amal ibadah yang selama ini dikerjakannya seakan sirna. "Imam al-Qusyairi juga meriwayatkan sebuah kisah dari Imam Abu Ja'far al-Balkhi tentang seorang pemuda yang dikenal rajin beribadah," kata Habib Alwi.

Kisah-kisah tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah perlu berjalan seiring dengan akhlak dan kemampuan menjaga lisan. Ghibah tidak hanya berpotensi merusak hubungan antarsesama, tetapi juga membawa kerugian bagi pelakunya. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan menggunakan lisannya untuk berzikir, berselawat, menasihati dalam kebaikan, dan menyampaikan perkataan yang bermanfaat. Kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya menjaga akhlak ketika menghadapi keburukan orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....