Terbit Fajar, Berakhirnya Nikmat Bermunajat kepada Allah
- 04 Sep 2026 06:54 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta - Bagi kebanyakan orang, terbitnya fajar menjadi penanda dimulainya aktivitas. Namun, bagi sebagian ulama dan orang-orang saleh, datangnya waktu subuh justru menjadi saat yang terasa berat karena menandai berakhirnya waktu indah untuk bermunajat kepada Allah SWT.
Dalam kitab An-Nashaih Ad-Diniyyah, Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad menukil perkataan sebagian ulama yang mengatakan bahwa selama empat puluh tahun, tidak ada sesuatu yang lebih membuat mereka merasa berat selain terbitnya fajar. Bukan karena enggan menjalani aktivitas pada pagi hari, melainkan karena terbitnya fajar menandakan berakhirnya waktu mereka menikmati kedekatan dengan Allah SWT di malam hari.
Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Kamis 3 September 2026, Habib Fahmi bin Hamid Assegaf mengatakan, bagi kebanyakan orang, waktu subuh kerap dianggap mengganggu kenyamanan tidur. Namun, bagi orang-orang saleh, terbitnya fajar justru menjadi saat berakhirnya kenikmatan beribadah pada malam hari.
Setelah menghabiskan waktu dalam salat, zikir, membaca Al-Qur'an, dan bermunajat kepada Allah SWT, mereka kembali menghadapi berbagai urusan dunia serta berinteraksi dengan manusia. Keadaan tersebut, menurut Habib Fahmi, seharusnya menjadi bahan renungan bagi setiap muslim.
“Sering kali kita merasa berat ketika diajak beribadah, tetapi juga merasa penat ketika berhadapan dengan berbagai persoalan manusia dan dunia. Padahal, seharusnya Allah menjadi tempat kembali dan tempat mencari ketenangan,” ujar Habib Fahmi bin Hamid Assegaf.
Ketika hati terasa sesak oleh berbagai persoalan kehidupan, seorang mukmin seharusnya semakin mendekat kepada Allah SWT, bukan justru menjauh dari-Nya. Kedekatan dengan Sang Pencipta menjadi sumber ketenangan yang dapat menguatkan hati dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Kesulitan hidup pun tidak lagi dipandang sebagai beban yang menghancurkan. Sebab, hati seorang hamba senantiasa memiliki tempat untuk kembali dan mengadu, yakni kepada Allah SWT.
Habib Fahmi kemudian mencontohkan kehidupan Rasulullah SAW yang dikenal sederhana. Secara lahiriah, kehidupan Rasulullah jauh lebih terbatas dibandingkan berbagai kemudahan yang dinikmati manusia pada masa sekarang. Namun, kesederhanaan tersebut tidak pernah menjadikan Rasulullah SAW sebagai pribadi yang merasa sengsara.
Sebaliknya, Rasulullah SAW dikenal sebagai manusia yang sangat banyak bersyukur kepada Allah SWT. Keterbatasan harta tidak mengurangi kebahagiaan beliau karena kebahagiaan sejati tidak semata-mata bergantung pada banyaknya harta, melainkan pada kekayaan hati dan kedekatan kepada Allah SWT.
“Jika dibandingkan dengan kehidupan Rasulullah SAW, banyak dari kita sebenarnya hidup jauh lebih berkecukupan. Fasilitas yang kita nikmati hari ini bahkan melebihi apa yang dimiliki oleh beliau,” kata Habib Fahmi bin Hamid Assegaf.
Namun, menurutnya, berbagai kemudahan yang dimiliki manusia saat ini tidak selalu sejalan dengan besarnya rasa syukur. Tidak sedikit orang yang hidup dalam kelapangan, tetapi tetap merasa kekurangan dan dipenuhi kegelisahan.
Inilah yang menunjukkan bahwa persoalan kebahagiaan tidak hanya berkaitan dengan keadaan lahiriah, tetapi juga cara pandang dan kondisi hati. Rasulullah SAW hidup dalam kesederhanaan, tetapi tetap merasa cukup dan penuh syukur. Sementara sebagian manusia hidup dalam berbagai kemudahan, namun masih merasa kurang.
Karena itu, kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada kemampuan hati untuk mensyukuri nikmat serta merasakan kedekatan dengan Allah SWT.
“Maka, marilah menjadikan Allah sebagai tempat pelarian dalam arti yang sebenarnya, yaitu tempat kembali, tempat mengadu, dan tempat mencari ketenangan dalam setiap keadaan. Ketika hati telah menemukan kenikmatan bermunajat kepada Allah, dunia tidak lagi menjadi sumber kegelisahan, tetapi menjadi jalan untuk semakin mendekat kepada-Nya,” ucap Habib Fahmi bin Hamid Assegaf.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....