Nikmat Tahajud, Kenikmatan Bermunajat Melebihi Kesenangan Dunia

  • 04 Sep 2026 06:51 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta - Malam bagi sebagian orang mungkin menjadi waktu untuk beristirahat atau menikmati berbagai hiburan. Namun, bagi orang-orang saleh, malam justru menjadi kesempatan istimewa untuk mendekatkan diri dan bermunajat kepada Allah SWT.

Seorang ulama besar, Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah, pernah berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kenikmatan yang dirasakan para pencinta kesenangan dalam kesenangan mereka.”

Bagi sebagian orang, ungkapan tersebut mungkin sulit dipahami. Tidak sedikit manusia yang sanggup menghabiskan malam hingga menjelang subuh untuk menikmati hiburan, musik, maupun berbagai kesenangan dunia. Dari luar, mereka tampak begitu menikmati apa yang dilakukan. Namun, para ulama menggambarkan bahwa terdapat kenikmatan lain yang jauh lebih dalam, yakni kenikmatan ketika seorang hamba dekat dengan Allah SWT.

Dikutip dari kanal YouTube Nabawi TV, Kamis 3 September 2026, Habib Fahmi bin Hamid Assegaf mengatakan, para ulama menjelaskan bahwa kenikmatan seorang hamba ketika berdiri dalam salat tahajud, membaca Al-Qur'an, berzikir, beriktikaf, dan bermunajat kepada Allah jauh lebih besar daripada kenikmatan dunia yang dirasakan oleh orang-orang yang lalai.

Kenikmatan tersebut tidak dapat diukur dengan materi. Ia merupakan kebahagiaan ruhani yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang pernah merasakannya. Abu Sulaiman Ad-Darani bahkan pernah mengungkapkan bahwa seandainya tidak ada malam, ia tidak ingin hidup lama di dunia.

“Malam bagi orang-orang saleh bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Malam adalah saat yang paling indah untuk berjumpa dengan Allah,” ujar Habib Fahmi bin Hamid Assegaf.

Ketika kesibukan dunia mulai mereda dan hiruk-pikuk kehidupan berangsur sunyi, seorang hamba memiliki kesempatan untuk berdiri di hadapan Rabb-nya dengan lebih khusyuk. Malam menjadi waktu untuk merenung, memohon ampun, menyampaikan harapan, serta menguatkan kembali hubungan dengan Sang Pencipta.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah SWT menegur Nabi Dawud alaihissalam dengan firman-Nya, “Wahai Dawud, dustalah orang yang mengaku mencintai-Ku, tetapi ketika malam tiba ia justru berpaling dari-Ku.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa cinta kepada Allah SWT tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Cinta perlu dibuktikan melalui ketaatan dan upaya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, terutama pada waktu-waktu yang penuh keutamaan, seperti sepertiga malam terakhir.

Kisah para nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang saleh juga bukan sekadar cerita masa lalu. Kisah-kisah tersebut dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghidupkan hati, membangkitkan semangat beribadah, serta mengingatkan manusia tentang tujuan hidup yang sesungguhnya.

Bagi mereka yang masih merasa berat untuk menghidupkan malam dengan ibadah, Habib Fahmi mengingatkan agar tidak berputus asa. Berusaha secara perlahan, membiasakan diri dalam kebaikan, memperbanyak membaca kisah orang-orang saleh, serta memohon pertolongan kepada Allah SWT dapat menjadi langkah untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ibadah.

“Ketika kenikmatan itu hadir, seorang hamba akan merasakan bahwa bermunajat kepada Allah jauh lebih indah daripada seluruh kesenangan dunia yang pernah ia kenal,” kata Habib Fahmi bin Hamid Assegaf.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....