Konten Singkat dan Tantangan Menjaga Budaya Membaca dalam Kehidupan Sehari-hari

  • 30 Agt 2026 13:16 WIB
  •  Samarinda

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

RRI.CO.ID, Samarinda – Perkembangan media digital mengubah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Jika sebelumnya buku, koran, dan majalah menjadi sumber bacaan utama, kini informasi banyak hadir melalui video pendek dan unggahan media sosial.

Konten berdurasi singkat menawarkan informasi yang cepat, menarik, serta mudah dikonsumsi. Kebiasaan menggulir layar juga membuat masyarakat terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya dalam waktu singkat.

Perubahan pola konsumsi tersebut menjadi tantangan bagi kebiasaan membaca secara mendalam. Ketika perhatian lebih banyak terserap konten singkat, waktu untuk membaca teks panjang dan memahami informasi secara menyeluruh berpotensi semakin berkurang.

Meski demikian, konten digital tidak selalu menjadi ancaman bagi budaya membaca. Media sosial justru dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan buku dan membangun ketertarikan masyarakat terhadap bahan bacaan.

Survei GoodStats pada 2025 menunjukkan 62,5 persen responden mengetahui informasi mengenai buku baru melalui media sosial. Data tersebut memperlihatkan bahwa platform digital dapat menjadi penghubung antara masyarakat dan dunia literasi.

“Media sosial sebenarnya dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan buku kepada masyarakat. Tantangannya adalah mengarahkan ketertarikan tersebut menjadi kebiasaan membaca,” ujar salah seorang pegiat literasi.

Membaca secara mendalam memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar memperoleh informasi. Aktivitas tersebut membantu seseorang memahami konteks, menganalisis isi, membandingkan sumber, hingga menilai kebenaran sebuah informasi.

UNESCO juga menempatkan literasi digital dalam cakupan yang lebih luas. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menerima informasi, tetapi juga memahami, menafsirkan, menciptakan, dan mengomunikasikannya dalam lingkungan teknologi.

“Budaya membaca tidak harus berhadapan dengan perkembangan teknologi. Keduanya bisa berjalan bersama jika konten digital diarahkan untuk membangun rasa ingin tahu,” ucapnya.

Konten singkat dapat menjadi pemantik awal sebelum seseorang mencari informasi yang lebih lengkap. Ketertarikan terhadap sebuah topik kemudian dapat dilanjutkan dengan membaca artikel, buku, maupun sumber terpercaya.

Pendekatan tersebut membuat masyarakat tidak perlu memilih antara menikmati konten digital dan membaca buku. Keduanya dapat digunakan sesuai kebutuhan sekaligus saling melengkapi.

Membangun kembali kebiasaan membaca juga tidak harus dilakukan secara langsung dalam waktu lama. Kebiasaan tersebut dapat dimulai dengan menyediakan waktu membaca secara bertahap dan konsisten.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca secara kritis menjadi semakin penting. Masyarakat tidak hanya dituntut cepat menerima informasi, tetapi juga mampu memahami dan mengevaluasinya.

Dengan pemanfaatan yang tepat, teknologi digital tidak harus mengikis budaya membaca. Sebaliknya, ruang digital dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan kembali minat membaca dan memperluas akses masyarakat terhadap literasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....