Radio di Era Digital, Bertahan dengan Adaptasi dan Kedekatan
- 30 Agt 2026 13:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat memperoleh informasi dan hiburan, termasuk dalam menikmati siaran radio.
Internet, media sosial, platform video, dan layanan streaming membuat masyarakat dapat mengakses informasi dalam waktu singkat.
DataReportal mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 230 juta pada akhir 2025. Angka tersebut setara dengan penetrasi internet sekitar 80,5 persen dari total populasi.
Kondisi tersebut membuat radio menghadapi tantangan dalam mempertahankan perhatian pendengar. Masyarakat kini memiliki semakin banyak pilihan konten yang dapat diakses melalui perangkat digital.
Meski demikian, perkembangan teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi radio. Digitalisasi justru membuka peluang bagi radio untuk memperluas jangkauan dan menghadirkan konten melalui berbagai platform.
Radio yang sebelumnya identik dengan frekuensi siaran kini dapat menjangkau audiens melalui streaming, podcast, media sosial, hingga layanan konten sesuai permintaan.
RRI menjadi salah satu lembaga penyiaran yang mengembangkan pola multiplatform tersebut. Melalui RRI Digital, masyarakat dapat mengakses siaran radio, podcast, dan beragam konten audio dalam satu layanan.
Di tengah persaingan dengan berbagai platform digital, radio tetap memiliki kekuatan berupa kedekatan dengan pendengar. Kehadiran penyiar, informasi lokal, cerita, serta interaksi langsung dapat membangun hubungan yang lebih personal.
“Radio tetap memiliki kekuatan karena mampu menghadirkan suara, informasi, dan interaksi yang terasa dekat dengan pendengar,” ujar salah satu pihak yang membahas perkembangan radio di era digital.
Kedekatan tersebut menjadi salah satu alasan radio tetap relevan, terutama dalam menyampaikan informasi yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat di daerah.
Karena itu, tantangan radio di era digital tidak hanya mempertahankan siaran konvensional. Radio juga dituntut memahami perubahan perilaku audiens dan mengemas konten sesuai kebiasaan konsumsi media.
“Transformasi radio bukan berarti meninggalkan siaran konvensional, tetapi memperluas kehadirannya melalui platform digital,” ucapnya.
Pembahasan mengenai masa depan radio juga mengemuka dalam Talkshow PerpusBI pada Agustus 2026 yang dilansir RRI.CO.ID. Forum tersebut menyoroti pentingnya reinvention radio melalui media sosial, streaming, podcast, dan berbagai platform digital.
Dengan demikian, radio tidak harus berhadapan dengan media digital sebagai pesaing langsung. Radio dapat menjadi bagian dari ekosistem digital dengan menggabungkan kekuatan siaran konvensional dan teknologi.
Ketika mampu beradaptasi tanpa kehilangan karakter serta kedekatan dengan masyarakat, radio tetap memiliki ruang untuk didengar di tengah semakin luasnya pilihan media digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....