Fenomena FOMO dan Kebiasaan Membandingkan Diri
- 29 Agt 2026 07:58 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID , Samarinda - Media sosial telah menjadi bagian dari keseharian anak muda. Berbagai aktivitas, pencapaian, gaya hidup, hingga momen kebahagiaan orang lain dapat dilihat hanya melalui layar. Kondisi ini dapat memunculkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal atau tidak ikut dalam pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.
FOMO sering muncul ketika seseorang melihat unggahan teman atau orang lain yang dianggap lebih sukses, bahagia, produktif, atau memiliki kehidupan lebih menarik. Dari sini, kebiasaan membandingkan diri mulai terbentuk. Seseorang tidak hanya melihat apa yang dimiliki orang lain, tetapi juga mulai mempertanyakan pencapaian dirinya sendiri. Penelitian pada mahasiswa menemukan bahwa perbandingan sosial menjadi salah satu prediktor terkuat terhadap FOMO.
Persoalannya, media sosial umumnya hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Foto liburan, pencapaian pekerjaan, barang baru, hingga perayaan bersama teman dapat terlihat sempurna. Padahal, pengguna tidak selalu mengetahui proses, kesulitan, maupun persoalan yang berada di balik unggahan tersebut. Ketika seseorang membandingkan kehidupan nyata dengan gambaran ideal di media sosial, rasa kurang percaya diri dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri dapat muncul. Studi terhadap remaja juga menemukan bahwa perbandingan ke arah orang yang dianggap lebih unggul berkaitan dengan penilaian diri yang lebih rendah pada saat tertentu.
Kebiasaan tersebut dapat membentuk siklus yang sulit dihentikan. Semakin sering melihat aktivitas orang lain, semakin besar keinginan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Akibatnya, seseorang terus membuka media sosial agar tidak merasa tertinggal. Penelitian terhadap anak muda menunjukkan bahwa tingkat FOMO yang tinggi berkaitan dengan keterlibatan media sosial yang lebih sering dan kesulitan mengendalikan penggunaannya seperti dilansir di pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
Menghadapi fenomena ini, anak muda perlu membangun kesadaran bahwa media sosial bukan gambaran kehidupan secara keseluruhan. Setiap orang memiliki perjalanan, kemampuan, kesempatan, dan waktu pencapaian yang berbeda. Membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih konten yang memberikan dampak positif, serta berhenti menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran diri dapat menjadi langkah sederhana. Pada akhirnya, media sosial sebaiknya digunakan sebagai sarana mendapatkan informasi dan membangun koneksi, bukan sebagai alat untuk terus mengukur nilai diri. (DarL)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....