Simtud Duror Gambarkan Kemuliaan dan Cinta kepada Rasulullah
- 27 Agt 2026 14:34 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Solo – Maulid Simtud Duror karya Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi merupakan salah satu kitab maulid yang populer di kalangan umat Islam. Kitab tersebut tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup Rasulullah Muhammad SAW, tetapi juga menggambarkan kecintaan mendalam kepada Nabi melalui bahasa yang indah dan penuh penghayatan.
Dikutip dari kanal YouTube Habib Muhammad Alhabsy, Rabu, 26 Agustus 2026, Habib Muhammad Alhabsy menjelaskan bahwa syamail Rasulullah SAW menggambarkan kepribadian, akhlak, serta keindahan fisik Nabi Muhammad SAW. Al-Habib Ali Al-Habsyi melukiskan sosok Rasulullah dengan ungkapan puitis yang diharapkan dapat menumbuhkan rasa kagum dan cinta kepada Nabi.
Gambaran tersebut tidak hanya menjelaskan ciri-ciri lahiriah Rasulullah, tetapi juga menghadirkan suasana batin yang menggambarkan kemuliaan beliau. Keistimewaan Simtud Duror terletak pada setiap kalimat yang sarat dengan mahabbah atau kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Pembahasan pada bagian tersebut diawali dengan kalimat, “Wa haitsu tasyarrafatil asma’u bi akhbaril habibil mahbub...” yang berarti, “Dan ketika pendengaran telah dimuliakan dengan kabar-kabar tentang Sang Kekasih yang dicintai.” Kalimat tersebut mengandung pesan bahwa mendengar kisah tentang Rasulullah SAW merupakan kemuliaan tersendiri bagi seorang mukmin.
“Dalam pandangan para ulama, Rasulullah SAW merupakan sumber keberkahan. Segala sesuatu yang memiliki hubungan dengan beliau memperoleh kemuliaan karena keterkaitannya dengan Nabi,” ujar Habib Muhammad Alhabsy. Ia menjelaskan, Madinah menjadi kota yang dimuliakan karena menjadi tempat Rasulullah SAW hidup, berdakwah, dan dimakamkan. Masjid Nabawi juga memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam karena berkaitan erat dengan kehidupan Rasulullah SAW.
Menurutnya, kemuliaan juga melekat pada berbagai hal yang memiliki hubungan dengan Nabi Muhammad SAW. “Begitu pula dengan berbagai hal lain yang terkait dengan Nabi Muhammad SAW. Para ulama dimuliakan karena mereka mewarisi ilmu beliau,” katanya. Ahlul Bait mendapatkan kemuliaan karena memiliki hubungan nasab dengan Rasulullah SAW, sedangkan benda-benda yang pernah bersentuhan dengan beliau menjadi bagian dari sejarah yang dihormati umat Islam.
Pesan tersebut semakin dikuatkan melalui kisah Isra dan Mi’raj serta ungkapan seorang penyair, “Inni ma madahtu Muhammadan bi qashaa’idi, walakin madahtu qashaa’idi bi Muhammadin,” yang bermakna, “Sesungguhnya aku tidak memuji Muhammad dengan syairku, tetapi aku menjadikan syairku mulia karena menyebut Muhammad.” Melalui Pasal 13 dan 14 Simtud Duror, umat Islam diajak semakin mengenal Rasulullah SAW, baik melalui rupa, akhlak maupun kemuliaan pribadinya. Semakin mengenal Nabi, diharapkan semakin tumbuh kecintaan yang mendorong umat Islam meneladani akhlak dan perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....