Waspadai Suul Khatimah, Jaga Iman hingga Akhir Hayat
- 19 Agt 2026 17:20 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta – Setiap orang beriman hendaknya senantiasa memiliki rasa takut terhadap suul khatimah, yakni akhir kehidupan yang buruk. Suul khatimah bukan sekadar meninggal dalam keadaan sedang melakukan maksiat, tetapi kondisi yang lebih berat adalah ketika seseorang meninggal dalam keadaan kehilangan iman.
Dikutip dari kanal YouTube Al Fachriyah, Rabu, 19 Agustus 2026, Al Habib Jindan bin Novel bin Jindan mengatakan secara lahiriah seseorang mungkin dimandikan, disalatkan, dan dimakamkan di pemakaman kaum Muslimin. Namun, di akhirat ia dapat dibangkitkan bersama orang-orang kafir. Wal'iyadzubillah.
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh merasa dirinya sudah aman dari perubahan hati. Allah Ta'ala adalah Dzat yang membolak-balikkan hati manusia. Dia memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.
Rasulullah SAW mengajarkan doa, “Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik.” Artinya, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Al-Qur'an juga mengajarkan doa, “Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wa hab lana milladunka rahmatan innaka antal Wahhab.” Artinya, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
Al Habib Jindan menjelaskan, doa tersebut menunjukkan bahwa hidayah bukan sesuatu yang boleh membuat seseorang merasa sombong. Bahkan, orang yang memiliki banyak amal tetap membutuhkan pertolongan Allah agar dapat istiqamah hingga akhir hayat.
Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa seseorang bisa saja sepanjang hidupnya mengerjakan amalan yang tampak seperti amalan penghuni surga. Namun, apabila ketetapan Allah berbeda, ia dapat mengakhiri hidupnya dengan amalan penghuni neraka dan masuk ke dalamnya.
Sebaliknya, seseorang yang sepanjang hidupnya melakukan amalan penghuni neraka masih memiliki kesempatan mendapatkan rahmat Allah dan mengakhiri hidupnya dengan amalan penghuni surga.
Hadis tersebut semestinya membuat orang-orang yang bertakwa semakin takut dan rendah hati. Jangan merasa telah sukses, sombong dengan ibadah, atau merasa pasti meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana akhir kehidupannya.
Namun, rasa takut tersebut bukan berarti membuat seorang Muslim berputus asa. Justru hadis itu memberikan harapan kepada orang yang selama ini bergelimang dosa agar tidak menyerah kepada rahmat Allah. Selama masih hidup, pintu tobat dan perbaikan diri tetap terbuka.
Umumnya, seseorang akan meninggal dalam keadaan sebagaimana kebiasaannya selama hidup. Orang yang membiasakan diri dalam ketaatan memiliki harapan besar untuk meninggal dalam ketaatan. Sebaliknya, orang yang terus-menerus hidup dalam kemaksiatan harus sangat mewaspadai akhir kehidupannya.
Karena itu, seseorang juga tidak boleh mudah memvonis orang lain. Bisa jadi seseorang yang secara lahiriah tampak memiliki amal baik ternyata memiliki akhir yang buruk. Sebaliknya, orang yang selama ini dipandang buruk bisa saja mendapatkan hidayah dan menutup hidupnya dengan kebaikan.
Para ulama dan orang-orang saleh terdahulu memberikan teladan dalam hal rasa takut kepada Allah. Mereka tidak merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Bahkan, ilmu yang benar justru melahirkan khasyah, tawaduk, dan kerendahan hati.
Dikisahkan tentang Uwais al-Qarni yang pernah berkata kepada seekor anjing bahwa masing-masing makhluk memperoleh bagian rezekinya. Ia tidak merasa lebih tinggi hanya karena dirinya manusia. Ia bahkan mengatakan, jika dirinya berhasil melewati shirath, barulah ia lebih baik daripada anjing tersebut. Namun, jika ia gagal dan masuk neraka, anjing itu lebih baik darinya.
Sikap tersebut menggambarkan betapa dalamnya rasa takut dan tawaduk orang-orang saleh. Ilmu yang diwariskan Rasulullah SAW seharusnya membuat seseorang semakin takut kepada Allah, bukan semakin sombong dan gemar merendahkan orang lain.
Hal yang sama tampak dalam doa Nabi Adam AS setelah melakukan kesalahan, “Rabbana zalamna anfusana wa illam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.” Artinya, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Nabi Yunus AS juga berdoa, “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz-zalimin.” Artinya, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Bahkan, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, salah seorang manusia terbaik setelah para nabi, diajarkan Rasulullah SAW untuk memohon ampun atas kezaliman terhadap dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa butuhnya kepada ampunan Allah.
Sebaliknya, ilmu yang mengikuti kesombongan iblis justru digunakan untuk membenarkan keunggulan diri. Iblis berkata bahwa dirinya lebih baik daripada Adam karena diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah. Ilmu yang tidak melahirkan ketundukan kepada Allah dapat berubah menjadi alat kesombongan.
Karena itu, salah satu bahaya besar yang harus dihindari adalah merasa aman terhadap iman sendiri. Para ulama mengingatkan agar seseorang tidak mengatakan, “Saya pasti meninggal husnul khatimah,” atau merasa dirinya sudah pasti selamat. Yang wajib dilakukan adalah terus memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan iman hingga akhir hayat.
Rasa takut terhadap suul khatimah juga harus mendorong seseorang memperbaiki amal. Di antara perkara yang perlu diwaspadai adalah meremehkan salat fardu, menunda salat hingga keluar waktunya tanpa uzur syar'i, meninggalkan salat, serta meremehkan kewajiban zakat.
Selain itu, seorang Muslim harus menjauhi kebiasaan mencari-cari aib orang lain, apalagi menyebarkannya untuk mempermalukan sesama. Demikian pula dengan kecurangan dalam timbangan dan transaksi. Al-Qur'an memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan.
Kecurangan yang terlihat kecil pun tidak boleh diremehkan. Keuntungan yang diperoleh dari sedikit takaran tidak sebanding dengan ancaman dosa yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Seorang Muslim juga harus menjauhi penipuan, terlebih penipuan dalam perkara agama, seperti menyampaikan informasi atau fatwa palsu dan menyesatkan orang lain atas nama agama. Demikian pula jangan berdusta, mengingkari nasab orang lain tanpa hak, atau mengaku memiliki kedudukan spiritual yang tidak dimiliki.
Yang tidak kalah penting adalah menjaga lisan dan hati dari kebencian kepada para sahabat Rasulullah SAW dan Ahlul Bait. Cinta dan penghormatan kepada mereka merupakan bagian dari adab terhadap generasi terbaik umat ini. Karena itu, seorang Muslim hendaknya berhati-hati dari kebiasaan mencaci, merendahkan, atau menyebarkan kebencian kepada mereka.
Para ulama juga mengingatkan umat Islam untuk menjaga hubungan dengan para ulama, orang saleh, Ahlul Bait, para sahabat, dan orang-orang yang dikenal memiliki ketakwaan. Penghormatan tersebut bukan berarti berlebihan atau mengultuskan manusia, melainkan menjaga adab dan menghargai orang-orang yang menjadi teladan dalam agama.
Pada akhirnya, pembahasan tentang suul khatimah bukan untuk membuat seseorang sibuk menilai akhir kehidupan orang lain. Justru sebaliknya, pembahasan ini seharusnya membuat kita sibuk memperbaiki diri.
Jangan merasa amal kita sudah cukup. Jangan merasa iman kita pasti aman. Jangan mudah memvonis orang lain sebagai penghuni neraka. Jangan pula berputus asa dari rahmat Allah ketika melihat banyaknya dosa dalam diri.
Yang harus terus dilakukan adalah memperbanyak tobat, menjaga salat, memperbaiki muamalah, menjauhi maksiat, menjaga lisan, mencintai orang-orang saleh, serta memohon kepada Allah agar hati tetap teguh dalam iman.
Sebab, sebesar apa pun amal yang telah dilakukan, manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah sampai detik terakhir kehidupannya.
Semoga Allah Ta'ala meneguhkan hati kita di atas iman dan Islam, mengampuni dosa-dosa kita, serta menganugerahkan kepada kita husnul khatimah. Aamiin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....