Menanamkan Sportivitas Lewat Lomba 17 Agustusan kepada Anak

  • 18 Agt 2026 19:48 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 tidak hanya menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat, tetapi juga dapat menjadi momentum penting untuk membangun karakter anak. Berbagai perlombaan 17 Agustusan yang digelar di sekolah, lingkungan permukiman, hingga tingkat RT dinilai dapat menjadi ruang belajar bagi anak untuk mengenal sportivitas, mengikuti aturan, bekerja sama, serta menerima kemenangan dan kekalahan.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program “IDOLA – Indonesia Layak Anak” Pro 1 RRI Samarinda, Minggu, 16 Agustus 2026, bersama Rizqi Syafrina, M.Psi., Psikolog Anak, dari Ikatan Psikologi Klinis (IPK) HIMPSI Kalimantan Timur sekaligus Ketua Program Studi Guru PAUD, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda. Menurutnya, perlombaan 17 Agustusan memiliki keunggulan karena berlangsung dalam suasana santai dan tekanan kompetisi yang relatif rendah.

Rizqi menjelaskan, meskipun lomba 17 Agustusan bertujuan memeriahkan peringatan kemerdekaan, kegiatan tersebut tetap memiliki aturan, juri, serta penilaian. Kondisi itu memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengikuti ketentuan permainan sekaligus memahami bahwa menjadi peserta dalam sebuah kompetisi tidak semata-mata berorientasi pada kemenangan.

“Lomba ya, tapi bukan sekadar lomba. Di sana juga tetap ada aturan, tetap ada juri, ada penilaian. Di situ anak-anak jadi bisa belajar,” ujar Rizqi dalam dialog tersebut. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi titik awal bagi anak untuk mengembangkan sportivitas sekaligus menjadi bekal ketika kelak menghadapi kompetisi pada tingkat yang lebih tinggi.

Selain sportivitas, perlombaan juga dapat menjadi sarana untuk membangun sejumlah karakter positif. Anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, saling menghormati, memiliki motivasi, serta berusaha bangkit ketika mengalami kegagalan. Pengalaman tersebut semakin bermakna ketika anak memperoleh dukungan dari teman, orang tua, maupun lingkungan sekitarnya.

Rizqi menekankan bahwa orang tua perlu membantu anak memahami bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pada usia dini, anak masih memiliki kecenderungan egosentris yang kuat sehingga membutuhkan pendidikan dan pengasuhan yang tepat agar secara bertahap mampu memahami aturan, tanggung jawab, serta menerima kenyataan bahwa tidak semua keinginan dapat terpenuhi.

Ketika anak mengalami kekalahan, orang tua disarankan tidak langsung memberikan hadiah pengganti atau justru mematahkan semangat anak. Anak perlu diberi kesempatan untuk menenangkan diri, memahami hasil perlombaan, kemudian memperoleh dukungan agar mau mencoba kembali. Pendampingan tersebut membantu anak belajar bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses dan masih terdapat kesempatan untuk berkembang.

“Tetap kasih semangat, tetap mengingatkan, tetap diajak saja ke lingkungan. Nggak apa-apa, kan kalah. Temanmu menang, kamu juga ikut happy. Kita kasih supportnya sampai ke sana,” kata Rizqi. Menurutnya, pendampingan orang tua diperlukan agar anak tidak larut dalam kekecewaan dan tetap memiliki keberanian untuk kembali mencoba.

Sebaliknya, ketika anak berhasil menjadi juara, orang tua juga perlu mengajarkan sikap rendah hati. Apresiasi terhadap pencapaian anak tetap penting, namun kemenangan sebaiknya tidak menjadi alasan untuk meremehkan atau mengejek peserta lain. Anak dapat diajak memberikan dukungan kepada teman yang belum berhasil sehingga mereka belajar menikmati kemenangan sekaligus tetap menghargai orang lain.

Keteladanan orang tua menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Respons orang tua ketika anak menang maupun kalah akan ikut memengaruhi cara anak memandang kompetisi. Karena itu, orang tua perlu menunjukkan bahwa kekalahan bukan alasan untuk berhenti mencoba, sementara kemenangan bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Rizqi juga mengingatkan agar orang tua tidak membandingkan anak dengan teman maupun saudara yang berhasil menjadi juara. Kebiasaan membandingkan dapat meninggalkan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan dan berpotensi memengaruhi hubungan anak dengan orang tua hingga mereka tumbuh dewasa. Karena itu, motivasi sebaiknya diberikan melalui dukungan terhadap proses dan perkembangan masing-masing anak.

Selain orang tua, penyelenggara lomba juga memiliki tanggung jawab menciptakan kompetisi yang aman, sehat, inklusif, dan menyenangkan. Jenis permainan perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak, sementara aturan perlombaan harus dibuat secara jelas. Panitia juga perlu mempersiapkan kegiatan dengan baik, memilih juri yang netral, serta mengatur jadwal, tempat, dan sistem penghargaan secara transparan agar tidak memicu konflik.

Pada akhirnya, lomba 17 Agustusan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan hiburan tahunan. Pengalaman anak mengikuti perlombaan dapat menjadi pembelajaran karakter yang dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dan lingkungan perlu memberikan ruang kepada anak untuk mencoba, bermain, bersosialisasi, menerima kemenangan maupun kekalahan, serta terus bangkit dari kegagalan. Dengan demikian, semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui perlombaan, tetapi juga diwujudkan melalui tumbuhnya anak-anak yang sportif, percaya diri, mampu menghargai orang lain, dan berani mencoba kembali ketika menghadapi kegagalan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....