Tiga Tingkatan Motivasi Ibadah Menurut KH Bakhiet
- 13 Agt 2026 17:32 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Kalimantan Selatan – Motivasi seseorang dalam beribadah kepada Allah SWT memiliki tingkatan yang berbeda. Ada yang beribadah karena mengharapkan pahala dan kemudahan hidup, ada pula yang melakukannya karena cinta kepada Allah hingga semata-mata menyadari kedudukannya sebagai hamba.
KH Muhammad Bakhiet menjelaskan, orang yang telah mencapai tingkat makrifat kepada Allah beribadah bukan karena mengharapkan ganjaran duniawi, surga, ataupun menghindari azab neraka. Mereka beribadah karena menyadari bahwa sebagai hamba, manusia memiliki kewajiban untuk mengabdi dan menaati perintah Allah SWT.
Menurutnya, kesadaran tersebut membuat seseorang menjadikan seluruh amal, seperti salat, sedekah, dan menuntut ilmu, sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Ibadah tidak lagi berorientasi pada keuntungan pribadi, tetapi dilakukan karena Allah merupakan Tuhan yang wajib disembah.
“Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak terduga,” ujar KH Muhammad Bakhiet, dikutip dari kanal YouTube nm232bjm Channel, Kamis 13 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, golongan pertama adalah orang awam yang beribadah dengan motivasi memperoleh kemudahan, ketenangan, keberkahan, dan rezeki. Sementara itu, golongan kedua disebut muhibbin, yakni orang-orang yang beribadah karena mencintai Allah. Mereka menjalankan perintah dan menjauhi larangan karena khawatir kehilangan cinta dan rida Allah.
Adapun golongan ketiga merupakan tingkatan tertinggi, yakni orang yang beribadah semata-mata karena menyadari dirinya sebagai hamba Allah. Mereka memandang ibadah sebagai kewajiban mutlak kepada Tuhan tanpa menjadikan ganjaran duniawi maupun ukhrawi sebagai tujuan utama.
KH Muhammad Bakhiet memberikan contoh melalui pembacaan Surah Al-Waqi’ah. Menurutnya, sebagian orang membacanya dengan harapan memperoleh rezeki dan kekayaan. Golongan muhibbin membacanya karena mencintai kalam Allah dan merasakan ketenangan batin, sedangkan orang yang telah mencapai makrifat membacanya sebagai bentuk ketaatan karena Al-Qur’an merupakan firman Allah.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas niat dalam beribadah dapat membawa seseorang pada penghambaan yang lebih ikhlas. Karena itu, umat Islam diajak tidak menjadikan ibadah semata-mata sebagai sarana memperoleh ganjaran, tetapi menjadikannya sebagai wujud ketundukan dan kecintaan kepada Allah SWT.
Dengan menjadikan ibadah sebagai bentuk penghambaan sejati, manusia diharapkan memperoleh rahmat dan keberkahan Allah, baik dalam kehidupan dunia maupun sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....