Generasi Muda Membangun Harapan di Kawasan Transmigrasi

  • 04 Agt 2026 15:14 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Papua Barat - Anggota Tim Ekspedisi Patriot sedang bertugas di kawasan transmigrasi Manokwari Selatan, Papua Barat. (foto: Humas Kementerian Transmigrasi)

Pembangunan kawasan transmigrasi bukan semata membangun jalan, jembatan, atau fasilitas publik.

Lebih dari itu, pembangunan berarti membangun hubungan antarmanusia, memahami keberagaman budaya, serta menghadirkan solusi bersama masyarakat.

Dikutip dari laman Indonesia.go.id pada Selasa 4 Agustus 2026. Semangat itulah yang dibawa dua peserta termuda Tim Ekspedisi Patriot,

Dania Putri Paramitha (21 tahun), mahasiswa Universitas Diponegoro, dan Intan Mareta Wahyudiyanti (20 tahun), mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, Dania menemukan pengalaman yang mengubah cara pandangnya tentang Indonesia.

Mahasiswa yang pernah meraih Juara I Geobiz Business Case Challenge 2025 bertema Urban Heat Island (UHI)

yang diselenggarakan IA-TOGI itu mengaku belajar langsung dari kehidupan masyarakat adat dan warga transmigran yang hidup berdampingan.

Baginya, kesempatan mengikuti Ekspedisi Patriot jauh melampaui sekadar menjalankan program lapangan.

Penugasan tersebut menjadi ruang mengenal Indonesia dari dekat dan memahami dinamika sosial yang tumbuh di kawasan transmigrasi.

"Saya ingin mengenal lebih dalam mengenai keberagaman budaya dan kehidupan sosial yang terbentuk dari interaksi antara transmigran dengan masyarakat lokal di Senggi.

Selain itu, saya juga ingin berpartisipasi dalam akselerasi transformasi transmigrasi di Indonesia," ujar Dania.

Berbekal semangat belajar, Dania memandang setiap tantangan sebagai bagian dari proses pengabdian.

Menurutnya, kontribusi tidak selalu diawali melalui langkah-langkah besar.

Membangun komunikasi, mendengarkan aspirasi masyarakat,

hingga memahami persoalan agraria merupakan ikhtiar sederhana yang mampu melahirkan perubahan nyata.

"Saya berharap, kepulangan saya dari Senggi nantinya tidak hanya membawa pengalaman,

tetapi juga meninggalkan kontribusi yang dapat dirasakan oleh masyarakat," katanya.

Semangat serupa mengantarkan Intan Mareta Wahyudiyanti kembali bergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot.

Setelah merasakan langsung pengalaman bertugas pada tahun sebelumnya,

mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu memilih kembali mengabdi di kawasan transmigrasi Manokwari Selatan, Papua Barat.

Kepercayaan untuk kembali diterjunkan ke lapangan menjadi bukti bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk mengambil peran dalam pembangunan.

Pengalaman sebelumnya justru memperkuat keyakinannya bahwa kawasan transmigrasi menyimpan potensi besar

yang hanya dapat dipahami melalui keterlibatan langsung bersama masyarakat.

"Saya ingin turut mengembangkan potensi yang dimiliki kawasan tersebut, mendampingi masyarakat,

serta berkolaborasi dalam menciptakan program yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat," ujar Intan.

Bagi Intan, pemberdayaan masyarakat merupakan fondasi utama pembangunan yang berkelanjutan.

Perubahan tidak selalu hadir melalui proyek berskala besar.

Mendengarkan kebutuhan warga, mengoptimalkan potensi lokal,

serta menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat menjadi langkah awal menuju kawasan transmigrasi yang lebih mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....