Filosofi Pakaian Hitam dalam Tradisi Berkabung

  • 27 Jul 2026 07:44 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pakaian berwarna hitam telah lama menjadi simbol kedukaan di berbagai negara. Warna ini sering dikenakan saat menghadiri pemakaman atau masa berkabung sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang yang telah meninggal dunia sekaligus ungkapan empati kepada keluarga yang ditinggalkan.

Tradisi mengenakan pakaian hitam berakar dari sejarah panjang, terutama di Eropa. Pada masa Kekaisaran Romawi hingga era Victoria di Inggris, warna hitam menjadi lambang duka, kesedihan, dan penghormatan. Seiring waktu, kebiasaan tersebut menyebar ke berbagai belahan dunia dan menjadi bagian dari budaya dalam prosesi berkabung.

Secara psikologis, warna hitam kerap dikaitkan dengan kesunyian, kehilangan, dan refleksi diri. Dalam teori psikologi warna, hitam juga melambangkan keseriusan, keteguhan, serta penghormatan. Oleh karena itu, pemakaiannya saat berkabung dianggap mampu menciptakan suasana yang lebih khidmat dan penuh rasa hormat seperti dilansir di verymindwell.com mengenai bagaimana warna mempengaruhi, perasaan, emosi serta perilaku seseorang.

Meski demikian, penggunaan pakaian hitam saat berkabung bukanlah aturan yang berlaku di semua budaya. Beberapa negara di Asia, seperti Tiongkok dan India, justru mengenal warna putih sebagai simbol duka. Di sejumlah daerah di Indonesia pun terdapat tradisi lokal yang menggunakan warna selain hitam sesuai adat istiadat masing-masing.

Pada akhirnya, makna utama pakaian berkabung bukan terletak pada warna yang dikenakan, melainkan pada niat untuk menunjukkan rasa belasungkawa dan penghormatan kepada almarhum maupun keluarga yang ditinggalkan. Mengenakan pakaian dengan warna yang sesuai tradisi setempat juga menjadi bentuk penghargaan terhadap nilai budaya dan norma yang berlaku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....