M4CR Bangun Ketahanan Pesisir lewat Rehabilitasi Mangrove
- 09 Jul 2026 11:52 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Rehabilitasi mangrove kini tidak lagi sekadar identik dengan kegiatan menanam pohon di kawasan pesisir. Melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), pemerintah mendorong upaya pemulihan ekosistem mangrove yang terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat, sehingga konservasi lingkungan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga pesisir.
Manager Provincial Project Implementation Unit (PPIU) M4CR Kalimantan Timur, Asman Azis, saat menjadi narasumber dalam Program Green Radio Pro 1 RRI Samarinda mengungkapkan, M4CR merupakan program strategis Pemerintah Indonesia yang didukung Bank Dunia. Program ini dirancang untuk memperkuat ketahanan pesisir melalui rehabilitasi mangrove yang mengedepankan pendekatan ilmiah sekaligus melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Menurut Asman Azis, sejak tahun 2025 pengelolaan program M4CR berada di bawah Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH). Program ini hanya dilaksanakan di empat provinsi, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Riau, dan Sumatera Utara, yang dinilai memiliki kawasan mangrove strategis sekaligus menghadapi ancaman kerusakan ekosistem.
Di Kalimantan Timur, pelaksanaan program difokuskan pada kawasan pesisir yang mengalami degradasi, terutama Delta Mahakam. Pada tahun 2024, M4CR berhasil merehabilitasi sekitar 4.445 hektare mangrove dengan pendekatan silvofishery, yaitu menggabungkan kegiatan budidaya tambak dengan pelestarian mangrove. Tahun 2025 rehabilitasi mencapai 499 hektare, sedangkan pada 2026 ditargetkan bertambah sekitar 3.160 hektare di sejumlah wilayah, termasuk Berau, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser.
Keunikan program ini terletak pada pola pemberdayaan masyarakat. Seluruh anggaran rehabilitasi dikelola langsung oleh kelompok masyarakat melalui mekanisme swakelola, mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan. Pendanaan disalurkan langsung dari negara ke rekening kelompok tanpa melalui pengelola proyek, sehingga diharapkan mampu menciptakan tata kelola yang transparan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi di desa-desa pesisir.
"Semangat program ini adalah pemberdayaan masyarakat. Anggaran langsung ditransfer ke rekening kelompok sehingga masyarakat mengelola sendiri kegiatan rehabilitasi, sementara kami fokus melakukan pendampingan dan pengawasan agar seluruh proses berjalan transparan," ujar Asman Azis, dikutip Kamis 9 Juli 2026.
Selain mendukung rehabilitasi, M4CR juga mengembangkan program Matching Grant, yaitu hibah bagi kelompok masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis potensi pesisir. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk usaha pengolahan hasil perikanan, budidaya kepiting, ekowisata, hingga pengembangan produk UMKM yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar kawasan mangrove.
Asman menambahkan, keberhasilan rehabilitasi mulai menunjukkan dampak positif terhadap kondisi lingkungan. Di sejumlah lokasi yang telah ditanami mangrove sejak beberapa tahun terakhir, berbagai jenis ikan, kepiting, dan udang kembali bermunculan sebagai indikator membaiknya kualitas ekosistem. Bahkan sistem silvofishery dinilai mampu meningkatkan produktivitas tambak sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Program ini juga melibatkan berbagai perguruan tinggi, termasuk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Kolaborasi tersebut bertujuan memastikan rehabilitasi dilakukan berdasarkan kajian ilmiah, sekaligus memberikan pendampingan teknis kepada masyarakat agar pengelolaan mangrove dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Meski demikian, tantangan rehabilitasi mangrove masih cukup besar. Alih fungsi lahan menjadi tambak, aktivitas perkebunan di beberapa daerah, hingga rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem pesisir masih menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama. Karena itu, pendekatan edukasi dan pemberdayaan dinilai menjadi strategi yang lebih efektif dibandingkan sekadar penegakan hukum.
"Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi dan perubahan iklim, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Karena itu masyarakat perlu melihat mangrove sebagai aset yang harus dijaga bersama, bukan hanya ketika ada proyek rehabilitasi," ucap Asman Azis.
Program M4CR untuk rehabilitasi mangrove diharapkan mampu menghadirkan manfaat ganda, yakni menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir. Dengan dukungan pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan partisipasi aktif masyarakat, Kalimantan Timur diharapkan menjadi contoh keberhasilan pengelolaan mangrove yang berkelanjutan demi mewujudkan pesisir yang tangguh dan masyarakat yang semakin sejahtera.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....