Melalui Dongeng Satwa Endemik, Nilai Cinta Kota Ditanamkan sejak Usia Dini

  • 28 Jun 2026 13:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penanaman nilai kearifan lokal dan rasa memiliki terhadap daerah asal dinilai krusial untuk dibentuk sejak masa kanak-kanak. Salah satu langkah efektif yang terus digaungkan adalah memanfaatkan metode mendongeng interaktif dengan tema "Mencintai Kota Samarinda". Melalui media narasi kreatif, anak-anak usia dini diajak untuk mengenali kekayaan hayati, sejarah lokal, serta tanggung jawab sosial terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.

Dalam sebuah sesi edukasi interaktif, pengenalan satwa endemik Kalimantan seperti burung enggang menjadi pintu masuk utama untuk menarik minat anak-anak. Tidak hanya sekadar cerita, pengenalan ini juga dikaitkan langsung dengan keberadaan Pesut Mahakam yang merupakan mamalia air tawar ikonik sekaligus lambang resmi dari Kota Samarinda. Pengenalan simbol-simbol kota ini bertujuan membangun ikatan emosional yang kuat antara anak dan tanah kelahirannya.

"Kenapa sih kita harus mencintai kota Samarinda? Karena di dalamnya banyak hewan-hewan yang sangat istimewa, yaitu ada burung enggang dan juga pesut," ujar Kak Sasa, saat memberikan ulasan materi kepada anak-anak pada program Dunia Anak pada Minggu, 7 Juni 2026.

Selain mengenalkan kekayaan alam, metode dongeng ini secara taktis menyelipkan materi mitigasi bencana alam yang dikemas secara sederhana. Anak-anak diberikan pemahaman logis mengenai hubungan sebab-akibat antara perilaku manusia dan kelestarian kota. Nilai disiplin dan kepedulian lingkungan ini sengaja ditanamkan agar generasi muda dapat tumbuh menjadi warga kota yang bertanggung jawab.

Kak Sasa menegaskan bahwa tindakan pencegahan banjir dan longsor di Kota Tepian harus dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari di rumah maupun sekolah. "Agar lingkungan kita tetap lestari, Samarinda tetap cantik, teman-teman juga harus melindungi dengan cara menjaga agar tidak buang sampah sembarangan," ujarnya.

Di samping isu lingkungan, konsep toleransi sosial juga menjadi pilar penting yang disisipkan dalam materi edukasi karakter ini. Anak-anak diajak untuk memahami bahwa Kota Samarinda dihuni oleh kemajemukan suku bangsa yang beragam, mulai dari suku Dayak, Kutai, Banjar, Bugis, hingga Jawa. Perbedaan latar belakang fisik maupun budaya tersebut diperkenalkan sebagai sebuah keindahan yang harus saling menghargai.

Melalui sinergi kisah pelestarian satwa, aksi nyata menjaga kebersihan, dan penguatan nilai-nilai toleransi, metode edukasi berbasis dongeng ini membuktikan efektivitasnya. Upaya kolektif ini diharapkan mampu mencetak generasi emas Samarinda yang tidak hanya cerdas secara personal, tetapi juga memiliki kepekaan sosial tinggi serta bangga terhadap identitas budaya lokalnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....