Pentingnya Etika Berbahasa dan Jejak Digital bagi Akun Anonim
- 17 Mei 2026 08:21 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kebebasan berekspresi di era digital bagaikan pisau bermata dua yang bisa membawa dampak positif sekaligus negatif. Salah satu fenomena yang marak dijumpai di kolom komentar media sosial saat ini adalah menjamurnya penggunaan akun anonim. Kehadiran akun tanpa identitas asli ini sering kali disalahgunakan oleh sebagian oknum generasi muda sebagai tameng untuk berkomentar tanpa batas.
Banyak pengguna media sosial merasa kebal hukum dan bebas dari norma sosial ketika identitas asli mereka tidak diketahui oleh publik. Akibatnya, ruang digital sering kali dipenuhi oleh kritikan yang tidak konstruktif, caci maki, hingga menjurus pada perundungan siber. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena esensi dari literasi digital bukan hanya sekadar cakap teknologi, melainkan juga cakap beretika.
Pemenang III Putri Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025, Afifah Amani, menyoroti bagaimana ilusi kebebasan ini memengaruhi psikologi anak muda dalam berbahasa di ruang siber. Kebebasan berpendapat seharusnya tetap berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral sebagai pengguna internet yang cerdas.
"Mungkin di media sosial karena kan kebanyakan dari generasi saat ini, berkomentar dan kebanyakan juga menggunakan akun anonim, jadi merasa ada sensasi kebebasan untuk menyampaikan pendapat. Sah-sah saja untuk menyampaikan kritik atau saran, asalkan ya diperhatikan lagi etikanya. Jangan sampai kelewatan hingga hampir bersifat ujaran kebencian," ujar Afifah Amani, dikutip Minggu 17 Mei 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa identitas tersembunyi tidak boleh menjadi alasan untuk melonggarkan standar moral dan kesantunan berbahasa. Kritik dan saran yang disampaikan secara santun justru akan memiliki bobot nilai yang lebih tinggi daripada makian kasar.
Selain masalah etika, cara seseorang berbahasa di media sosial secara tidak langsung akan membentuk jejak digital yang permanen. Jejak digital ini merupakan rekam jejak yang sangat sulit dihapus sepenuhnya dan dapat diakses kembali di masa mendatang.
Bagi akun-akun yang menggunakan nama dan foto asli, setiap ketikan komentar adalah bentuk dari personal branding mereka sendiri. Menampilkan karakter yang buruk melalui bahasa yang kasar di ruang publik digital dapat menghancurkan reputasi seseorang, bahkan bisa berdampak buruk pada karier profesional mereka di masa depan.
Oleh karena itu, literasi digital yang menekankan etika berbahasa harus terus digaungkan kepada generasi muda. Menjaga lisan di dunia nyata sama pentingnya dengan menjaga jempol di dunia maya, demi terciptanya ekosistem digital Indonesia yang sehat, aman, dan bermartabat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....