Ilmu Fiqiih Rangkuman Al'Qur'an dan hadis Nabi Muhammad

  • 12 Mei 2026 14:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Solo - Membaca Fatihah itu hukumnya merupakan satu kewajiban.

Kewajiban dalam aktivitas disebut rukun, sedangkan kewajiban di luar aktivitas disebut syarat.

Dilansir dari you tobe ustaz Muhammad AL Habsy. Selasa, 12 Mei 2026.

Habib Muhammad bertanya mengapa orang yang salat harus bersuci terlebih dahulu?

"Karena salah satu syarat salat adalah suci dari hadas, " ujar Habib Muhammad.

Suci dari najis, pakaian, tempat, dan badan saat mengerjakan salat.

Semua ketentuan ini para ulama mengambil dari Al-Qur'an dan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.

Oleh sebab itu, ulama-ulama merangkum dari Al-Qur'an dan hadis tersebut menjadi satu konsep keilmuan yang disebut ilmu fikih.

"Ilmu fikih dimulai sejak seseorang masuk Islam dengan syarat mengucapkan dua kalimat syahadat, " kata Habib Muhammad.

Karena orang itu harus berwudu terlebih dahulu, maka wudu harus menggunakan air.

Air yang bisa dipakai untuk wudu harus memenuhi syarat tertentu.

"Syaratnya adalah air mutlak, yaitu air yang tidak memiliki ikatan nama dan sah secara syariat, " ujarHabib Muhammad .

Air mutlak ini bisa dipakai untuk ibadah. Sedangkan air kopi tidak bisa dipakai untuk wudu karena memiliki ikatan nama.

Sifat kopi tidak bisa dihilangkan dan tetap disebut kopi.

Para ulama fikih seperti Imam Abu Hanifah yang memiliki rumusan sendiri dalam memahami Al-Qur'an dan hadis.

Kemudian Imam Malik juga mempunyai rumusan dan fatwa yang beliau keluarkan.

Beliau memiliki murid yang mencatat fatwanya, serta meninggalkan sebuah kitab bernama Al-Muwatta,

kitab ini berisi hadis-hadis yang dipilih sebagai pedoman dalam melaksanakan ibadah dan muamalah.

Imam Malik memiliki murid bernama Muhammad bin Idris As-Syafi'i.

Imam Syafi’i belajar di Makkah sejak umur 15 tahun dan sudah diberi izin untuk berfatwa.

Bayangkan, seorang anak usia 15 tahun di hadapan orang-orang tua sudah memberikan fatwa. Yang mengizinkan dia berfatwa adalah gurunya.

Imam Syafi’i pergi kepada Imam Malik.

Saat menghadiri majelis Imam Malik, beliau membacakan hadis, dan Imam Syafi’i menulisnya di tangannya karena tidak mampu membeli alat tulis dan kertas.

Setelah selesai, beliau dipanggil dan ditanya, “Kenapa semua itu kau tulis di tangan?” Imam Syafi’i menjawab, “Saya tidak punya kertas, jadi saya tulis hadis-hadis itu di tangan.

Jika Anda mau, saya bisa mengulanginya.” Maka semua hadis yang disampaikan oleh Imam Malik berhasil diulang kembali oleh Imam Syafi’i.

Jadi, Imam Syafi’i langsung menghafal hadis tersebut dari tangannya.

Kata Imam Malik, “Anakku, bertakwalah kamu kepada Allah. Suatu hari nanti, kamu akan menjadi orang yang luar biasa.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....