Kemuliaan Hakiki Bukan Harta, Bukan Jabatan, Melainkan Taqwa

  • 10 Mei 2026 17:04 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Di tengah kehidupan yang semakin materialistis, ukuran kemuliaan seseorang kerap dinilai dari kekayaan, jabatan, popularitas, hingga keturunan. Padahal dalam pandangan Islam, kemuliaan sejati bukan terletak pada apa yang tampak secara lahiriah, melainkan pada kualitas ketakwaan seseorang kepada Allah SWT. Nilai inilah yang diangkat dalam Tausiyah Mutiara Pagi RRI Samarinda edisi Jumat, 8 Mei 2026.

Mengusung tema “Kemuliaan Hakiki Bukan Harta, Bukan Jabatan, Melainkan Takwa”, tausiyah tersebut menghadirkan narasumber Ustaz Kiai Haji Muhammad Khozin. Dalam penyampaiannya, ia mengajak masyarakat untuk kembali memahami makna kemuliaan yang sesungguhnya di tengah kehidupan modern yang sering menjadikan materi sebagai tolok ukur kehormatan manusia.

Ustaz Muhammad Khozin menjelaskan, manusia sering kali terjebak dalam persepsi keliru tentang kemuliaan. Banyak orang merasa lebih tinggi karena kekayaan, jabatan, atau garis keturunan yang dimiliki. Padahal, menurut ajaran Islam, seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT, kecuali dari sisi ketakwaannya.

“Allah tidak memandang manusia dari keturunan, kekayaan ataupun jabatan. Yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertakwa,” ujar Ustaz Muhammad Khozin.

Ia kemudian mengutip Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam berbagai suku dan bangsa agar saling mengenal, bukan untuk saling membanggakan diri ataupun merendahkan orang lain. Perbedaan status sosial, warna kulit, maupun asal-usul bukanlah ukuran kemuliaan dalam Islam.

Menurutnya, fenomena kesombongan sosial masih banyak ditemukan di tengah masyarakat, baik karena jabatan, kekayaan, maupun keturunan. Sikap tersebut dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kerendahan hati, persaudaraan, dan saling menghormati sesama manusia.

Ia juga mengingatkan, seluruh nikmat yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan amanah dari Allah SWT. Karena itu, harta, kedudukan, dan popularitas seharusnya digunakan untuk mendatangkan manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjadi sarana untuk menyombongkan diri.

“Takwa bukan berarti seseorang tidak boleh kaya atau memiliki jabatan. Namun semua itu harus dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk membanggakan diri,” katanya.

Untuk memperkuat penjelasannya, ia mengangkat kisah Bilal bin Rabah, seorang mantan budak yang dimuliakan Allah karena ketakwaannya. Meski pernah dipandang rendah oleh masyarakat Quraisy, Bilal justru memperoleh kehormatan besar sebagai muazin pertama dalam sejarah Islam berkat keimanan dan keteguhannya.

Selain Bilal bin Rabah, Ustaz Khozin juga menyinggung kisah Salman Al-Farisi yang berasal dari Persia namun dimuliakan Rasulullah SAW karena ilmu dan ketakwaannya. Kedua kisah tersebut menjadi bukti bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosial, keturunan, ataupun kebangsaan, melainkan oleh iman dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Di akhir tausiyah, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan takwa sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Ia menegaskan bahwa harta, jabatan, dan popularitas hanyalah bersifat sementara, sedangkan ketakwaan merupakan kemuliaan abadi yang akan menyelamatkan manusia di dunia maupun akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....