Kisah Abu Damdam Ajarkan Ikhlas Memaafkan Tanpa Batas

  • 05 Mei 2026 08:11 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Malang – Kisah sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Damdam, menjadi teladan mulia dalam hal memaafkan sesama. Ia mendapat pujian langsung dari Nabi Muhammad SAW, hingga membuat para sahabat lain tertegun dan ingin meneladani sikapnya.

Rasulullah bahkan bersabda, “Apakah kalian tidak mampu menjadi seperti Abu Damdam?” Hal ini menunjukkan betapa tinggi derajat akhlak yang dimiliki Abu Damdam di hadapan Nabi.

Keistimewaan Abu Damdam terletak pada kebiasaannya setiap malam sebelum tidur. Ia dengan tulus memaafkan semua orang yang pernah menyakitinya, baik yang merendahkan, menghina, maupun menggunjing dirinya.

Dalam doanya, Abu Damdam berkata, “Ya Rabb, orang-orang yang menggibahku dan menghina aku, saksikanlah bahwa aku telah memaafkan mereka.” Sikap ini menjadi contoh nyata keikhlasan dan kelapangan hati dalam menghadapi perlakuan buruk orang lain.

Dilansir dari kanal YouTube Al Wafa Tarim, Habib Jamal bin Thoha Ba'agil menjelaskan berbuat ketaatan seringkali lebih mudah dibandingkan meninggalkan maksiat. Oleh karena itu, orang yang benar-benar hebat adalah mereka yang mampu menjauhi maksiat.

Ia menambahkan, ibadah yang sederhana namun disertai dengan meninggalkan maksiat lebih mulia dibandingkan ibadah besar tetapi masih disertai perbuatan dosa. Meski demikian, seseorang yang masih bermaksiat tidak boleh meninggalkan ketaatan.

Mengutip nasihat Habib Umar bin Hafidz, Habib Jamal menyampaikan ketaatan bisa menjadi jalan datangnya hidayah dan ampunan Allah. Satu amal baik, seperti berbakti kepada orang tua, bisa menjadi sebab perubahan menuju kebaikan.

Karena itu, umat Islam diingatkan untuk tidak mudah menghakimi orang lain yang masih melakukan kesalahan. Bisa jadi, melalui sedekah atau amal baik lainnya, Allah membuka pintu hidayah baginya.

Sementara itu, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi mengingatkan bahwa ghibah telah menjadi kebiasaan yang dianggap sepele, padahal termasuk perbuatan maksiat yang berbahaya.

Umat Islam diajak untuk menjaga lisan dan menghindari membicarakan keburukan orang lain. Sebagai gantinya, memperbanyak zikir kepada Allah dinilai lebih bermanfaat dan menjadi obat bagi penyakit hati.

“Daripada membicarakan orang lain, lebih baik berdzikir kepada Allah. Itu mujarab dari segala penyakit,” ujar Habib Jamal.

Kisah Abu Damdam menjadi pengingat bahwa menjaga lisan dan memaafkan adalah kunci meraih ketenangan hati sekaligus kedudukan mulia di sisi Allah SWT.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....