Bahaya Kebodohan dan Pentingnya Ilmu dalam Kehidupan
- 04 Mei 2026 13:25 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Pasuruan – Kebodohan, terutama dalam hal tidak memahami ilmu yang wajib, disebut sebagai akar dari berbagai keburukan dan musibah, baik di dunia maupun di akhirat. Pesan ini menjadi pengingat bahwa ilmu bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendasar dalam menjalani kehidupan.
Dalam penjelasan yang disampaikan Habib Taufiq, disebutkan orang yang tidak memiliki pengetahuan berada dalam kondisi yang berbahaya. Hal ini berlaku tidak hanya dalam urusan dunia, tetapi juga dalam urusan agama. Ketidaktahuan yang disertai rasa percaya diri berlebihan justru dapat membawa dampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain.
Sebagai contoh, seseorang yang tidak memahami cara menyetir namun memaksakan diri berkendara berpotensi mencelakakan banyak pihak. Begitu pula dengan orang yang tidak memahami kelistrikan tetapi bertindak seolah ahli, risiko yang ditimbulkan bisa sangat fatal. Jika dalam urusan dunia saja berbahaya, maka ketidaktahuan dalam urusan agama tentu memiliki dampak yang lebih besar.
Dalam aspek keagamaan, ketidaktahuan tentang wudhu, salat, hingga akidah bisa menjerumuskan seseorang pada kesalahan fatal. Bahkan lebih berbahaya jika orang tersebut merasa cukup berilmu lalu memberikan nasihat atau fatwa kepada orang lain. Kondisi ini berpotensi menyesatkan diri sendiri sekaligus orang lain.
Pandangan ini sejalan dengan nasihat Imam Syafi'i yang menegaskan bahwa orang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu. Menurutnya, tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan alim, melainkan menjadi berilmu melalui proses belajar yang sungguh-sungguh.
Lebih lanjut dijelaskan, usia tidak selalu menjadi ukuran kedewasaan seseorang. Orang yang lebih tua tetapi tidak memiliki ilmu bisa saja diperlakukan seperti anak kecil dalam suatu forum. Sebaliknya, anak muda yang memiliki ilmu dan akhlak baik justru dapat dihormati dan dijadikan panutan di tengah masyarakat.
Pesan penting lainnya adalah tanggung jawab dalam mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya. Jika tidak mampu menjadi orang alim, setidaknya memiliki tekad untuk mendidik anak agar berilmu dan berakhlak baik. Hal ini penting agar kebodohan tidak menjadi warisan yang terus berulang.
Di akhir pesannya, Habib Taufiq mengingatkan sebaik-baik generasi muda adalah mereka yang memiliki akhlak seperti orang tua yang bijak, sementara sebaliknya, orang tua yang berperilaku kekanak-kanakan justru menjadi contoh yang kurang baik. Oleh karena itu, menuntut ilmu dan menjaga akhlak menjadi kunci utama dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....