Kisah Rasulullah di Rumah Abu Ayyub, Penuh Hikmah Kehidupan

  • 30 Apr 2026 08:35 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Solo – Kisah kedatangan Nabi Muhammad SAW ke Kota Madinah menyimpan banyak pelajaran berharga, salah satunya saat tinggal di rumah Abu Ayyub al-Anshari.

Peristiwa ini terjadi setelah hijrah dari Mekah menuju Madinah. Saat itu, masyarakat berlomba-lomba menawarkan tempat tinggal kepada Rasulullah. Namun, Nabi mempersilakan untanya berjalan tanpa diarahkan.

“Biarkan ia berjalan, karena ia mendapat perintah,” ujar Nabi bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam.

Unta tersebut kemudian berhenti di sebidang tanah milik dua anak yatim. Tanah itu dibeli dan dibangun menjadi Masjid Nabawi. Lokasinya berdekatan dengan rumah Abu Ayyub, yang kemudian menjadi tempat tinggal sementara Nabi.

Awalnya, Nabi diminta menempati lantai atas, sementara Abu Ayyub dan istrinya, Ummu Ayyub, tinggal di bawah. Namun, Nabi memilih di lantai bawah agar mudah ditemui para sahabat.

Selama tinggal bersama, Abu Ayyub dan istrinya menunjukkan adab yang sangat tinggi. Mereka bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena khawatir mengganggu Nabi. Dalam satu peristiwa, air yang tumpah segera dikeringkan menggunakan selimut agar tidak menetes ke bawah.

Kisah ini juga diriwayatkan dalam sejumlah hadis, di antaranya dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Setelah beberapa hari, Nabi akhirnya bersedia pindah ke lantai atas demi kenyamanan tuan rumah.

Kisah lain terjadi saat Abu Ayyub menghidangkan makanan. Ia terbiasa mencari bekas sentuhan tangan Nabi pada makanan sebagai bentuk mengambil berkah.

Suatu ketika, Nabi tidak menyentuh hidangan yang mengandung bawang putih. Ketika ditanya, Nabi menjelaskan bahwa sering didatangi malaikat dan tidak ingin aroma tersebut mengganggu.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, disebutkan bahwa orang yang memakan bawang putih atau bawang bombai sebaiknya tidak mendekati masjid hingga baunya hilang, karena dapat mengganggu manusia dan malaikat.

Penjelasan serupa juga ditemukan dalam kitab tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir yang menekankan pentingnya menjaga adab dan kebersihan saat beribadah.

Meski demikian, makanan beraroma kuat tetap boleh dikonsumsi selama tidak mengganggu orang lain. Jika dimasak hingga baunya hilang, maka tidak menjadi masalah.

Kisah ini menunjukkan keteladanan dalam menjaga adab, serta kecintaan mendalam para sahabat dalam mengikuti ajaran hingga hal-hal kecil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....