Tantangan Pendidikan Anak Autis dan Peran Layanan Inklusi di Samarinda
- 28 Apr 2026 08:51 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Pendidikan bagi anak dengan autisme, khususnya pada usia dini, masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu dipahami masyarakat luas. Tidak hanya berkaitan dengan kondisi anak, tetapi juga kesiapan lingkungan dalam menerima dan mendukung mereka secara optimal.
Pelaksana program Preschool Skill di Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI) Samarinda, Muhammad Pakoni Semaidi, menjelaskan tantangan utama bukan hanya terletak pada anak dengan autisme, melainkan pada lingkungan yang belum sepenuhnya adaptif. Ia menegaskan masyarakat perlu memperbanyak literasi mengenai autisme agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Permasalahannya bukan hanya pada autisme itu sendiri, tetapi lingkungan yang belum inklusif,” kata Pakoni saat dialog bersama RRI, dikutip Selasa 28 April 2026.
Lebih lanjut, ia mengatakan masih banyak masyarakat yang cenderung menutup diri atau kurang memahami bagaimana berinteraksi dengan anak autis. Hal ini berdampak pada terbatasnya kesempatan anak untuk berkembang secara sosial maupun akademik. Oleh karena itu, edukasi publik menjadi langkah awal yang sangat penting dalam menciptakan perubahan.
Dalam upaya menjawab tantangan tersebut, lembaga seperti Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI) hadir memberikan berbagai layanan. Muhammad Pakoni mengatakan, lembaganya menyediakan intervensi terpadu yang mencakup terapi perilaku, fisioterapi, hingga terapi bicara. Selain itu, terdapat pula program pengembangan motorik halus dan kasar serta keterampilan dasar anak usia dini.
Tidak hanya itu, layanan asesmen juga menjadi bagian penting dalam mendukung pendidikan inklusif. Lebih lanjut dijelaskannya, asesmen dilakukan sebagai proses skrining awal untuk mengetahui kebutuhan anak sebelum masuk ke jenjang pendidikan. Menariknya, layanan ini dibuka untuk umum dan dapat diakses secara gratis, sehingga memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat.
Namun, tingginya kebutuhan layanan menjadi tantangan tersendiri. “Sejak berdiri pada 2014, kami telah menangani lebih dari 200 anak, dengan daftar tunggu yang masih mencapai ratusan,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah anak dengan autisme yang membutuhkan layanan terus meningkat, sementara kapasitas masih terbatas.
Meski demikian, sistem rotasi layanan menjadi solusi untuk menjangkau lebih banyak anak. “Setiap anak mendapatkan layanan selama sembilan bulan sebelum kemudian dilanjutkan dengan program di rumah. Dengan cara ini, kesempatan bagi anak lain untuk mendapatkan terapi tetap terbuka,” katanya.
Ke depan, kolaborasi antara lembaga, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi berbagai tantangan tersebut. Menurutnya, dukungan lingkungan yang inklusif akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak autis. Dengan pemahaman yang lebih baik dan kepedulian bersama, diharapkan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....