Kiai Mualim: Akhlak Murid Cerminan Guru

  • 27 Apr 2026 10:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda — Seorang murid dinilai tidak memiliki akhlak yang berdiri sendiri, karena perilaku yang ditampakkan pada dasarnya merupakan cerminan dari akhlak gurunya. Segala tindakan seorang murid pun tidak lepas dari bimbingan dan arahan sang guru.

Dalam tayangan dakwah yang disiarkan melalui YouTube kanal Nabawi TV, Senin 27 April 2026, K.H. Mualim Ubaidillah Hamdan mengungkapkan almarhum Habib Munzir dikenal sebagai sosok yang sangat mendalami ajaran gurunya.

Ia menggambarkan Habib Munzir seolah “tenggelam dalam lautan ilmu gurunya”, sehingga mampu menemukan berbagai hikmah, ibarat berlian dan mutiara, yang juga diperoleh dari gurunya. Hal tersebut, menurutnya, berkaitan dengan karunia wirasatun nubuwiyah atau warisan kenabian.

K.H. Mualim menegaskan, kecintaan kepada guru menjadi jalan bagi seseorang untuk mengenal Nabi Muhammad secara mendalam, baik melalui hati, batin (sirr), maupun lubuk jiwa terdalam. Pada akhirnya, kecintaan tersebut bermuara kepada Rasulullah sebagai teladan utama.

Ia juga mengutip pernyataan Abdurrahman yang menyebut bahwa alam semesta hanyalah isyarat atau petunjuk, bukan tujuan akhir. Dalam pandangan tersebut, tujuan sejati adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui Rasulullah.

Lebih lanjut, K.H. Mualim mencontohkan kehidupan Habib Munzir yang sederhana. Bahkan, semasa hidupnya, beliau tidak berorientasi pada harta benda, melainkan pada pengabdian spiritual.

Menurutnya, Nabi Muhammad merupakan satu-satunya jalan (perantara) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pandangan ini juga sejalan dengan ajaran Ibnu Athaillah yang menekankan pentingnya hati para wali yang diterangi oleh cahaya kenabian.

Dalam tausiyah tersebut, K.H. Mualim mengingatkan bahwa di akhir zaman, seseorang akan merugi jika tidak memiliki ikatan spiritual dengan Tuhan di dalam hatinya. Ia menyoroti fenomena ketika hati manusia lebih dipenuhi oleh urusan dunia seperti harta, jabatan, dan kedudukan, dibandingkan dengan kecintaan kepada Nabi Muhammad.

“Banyak yang memiliki guru, tetapi gurunya tidak hadir dalam hatinya,” ujarnya.

Sebagai teladan, ia kembali menekankan sosok Habib Munzir yang selalu menghadirkan gurunya dalam hati, sehingga kedekatan dengan Rasulullah dan Allah senantiasa terjaga.

Di akhir tausiyah, K.H. Mualim memanjatkan doa agar nilai-nilai kebaikan dan keberkahan yang dimiliki para ulama dapat diwariskan kepada umat.

“Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan dan rahasia kebaikan tersebut kepada kita semua,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....