Kisah Penyuluh KB Hadapi Penolakan hingga Berhasil Edukasi Masyarakat

  • 21 Apr 2026 07:35 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Tantangan dalam pelaksanaan program keluarga berencana (KB) masih kerap ditemui di lapangan, terutama terkait pemahaman dan kepercayaan masyarakat. Hal ini diungkapkan Sekretaris DPD IPeKB Kalimantan Timur, Desca Fernanda, yang telah lebih dari 10 tahun menjadi penyuluh KB.

Desca mengakui, penolakan dari masyarakat pernah terjadi, terutama karena pengaruh informasi yang beredar di lingkungan sekitar maupun media sosial. “Masyarakat kadang lebih percaya pada informasi dari lingkungan atau media sosial dibandingkan penyuluh,” ujar Desca saat dialog bersama RRI, dikutip Selasa 21 April 2026.

Penolakan KB karena Persepsi dan Keyakinan Ia menceritakan pengalamannya saat melakukan penyuluhan di salah satu wilayah di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda. Saat itu, sebagian masyarakat memiliki keyakinan bahwa program KB tidak diperbolehkan.

“Ada masyarakat yang meyakini bahwa KB itu haram. Itu menjadi tantangan besar bagi kami saat melakukan edukasi,” katanya.

Namun, kondisi tersebut perlahan berubah setelah dilakukan pendekatan secara persuasif dan berkelanjutan.

Pendekatan Bertahap untuk Edukasi Kesehatan Desca menjelaskan bahwa pendekatan kepada masyarakat tidak bisa dilakukan secara langsung dan konfrontatif. Penyuluh harus membangun komunikasi yang baik serta memberikan pemahaman secara bertahap. “Kami masuk pelan-pelan, menjelaskan bahwa pengaturan kelahiran penting untuk kesehatan ibu dan anak,” ucapnya.

E-flyer program Indonesia Sehat Pro1 RRI Samarinda. (Foto: RRI Samarinda)

Ia juga menekankan jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat berdampak pada kondisi gizi anak, bahkan berpotensi menyebabkan stunting.

Melalui pendekatan yang tepat, masyarakat mulai memahami bahwa program KB bukan sekadar membatasi jumlah anak, melainkan untuk meningkatkan kualitas keluarga. “Masyarakat akhirnya memahami bahwa kontrasepsi bukan hanya untuk membatasi, tetapi untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera,” ujarnya.

Upaya edukasi yang konsisten membuahkan hasil positif. Desca menyebutkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam program KB di wilayah binaannya di Kecamatan Palaran tergolong tinggi.

“Antusias masyarakat sangat baik, terutama saat ada pelayanan KB gratis. Penggunaan kontrasepsi juga cukup tinggi,” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut juga didukung oleh peran kader yang aktif serta kesadaran masyarakat yang semakin meningkat.

Keberhasilan di Kecamatan Palaran menjadi salah satu contoh implementasi program Bangga Kencana yang efektif. Dengan edukasi yang tepat dan pendekatan humanis, penyuluh KB mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Desca menegaskan, tujuan utama program ini adalah menciptakan keluarga yang sehat, berkualitas, dan sejahtera.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....