Strategi Penyuluh KB Hadapi Tantangan Era Digital

  • 21 Apr 2026 07:26 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penyuluh keluarga berencana (KB) dituntut adaptif dalam menjalankan tugasnya di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang. Hal ini disampaikan Sekretaris DPD IPeKB Kalimantan Timur, Desca Fernanda, dalam program Indonesia Sehat Pro 1 RRI Samarinda.

Menurut Desca, penerapan tugas penyuluh KB yang dikenal dengan konsep 4P yaitu penyuluhan, pelayanan, penggerakan, dan pengembangan, tidak selalu dilakukan secara kaku atau bertahap, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan program dan kondisi masyarakat.

“Semua tergantung program yang dijalankan. Ada penyuluhan untuk edukasi masyarakat, pelayanan seperti KB dan konseling keluarga, penggerakan partisipasi masyarakat, serta pengembangan kompetensi diri sebagai aparatur sipil negara,” ujar Desca, dikutip Selasa 21 April 2026.

Ia mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Masyarakat kini dapat mengakses berbagai informasi kesehatan hanya melalui telepon pintar.

“Akses informasi sekarang sangat mudah. Masyarakat bisa mencari apa saja melalui gawai, bahkan membandingkan dengan informasi dari penyuluh,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini membuat sebagian masyarakat merasa lebih memahami informasi, meskipun belum tentu akurat. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi penyuluh dalam memberikan edukasi yang tepat.

Sekretaris DPD IPeKB Kalimantan Timur, Desca Fernanda (kanan), dalam program Indonesia Sehat Pro 1 RRI Samarinda. (Foto: Tangkapan layar youtue RRI Samarinda)

Dalam menghadapi situasi tersebut, ia menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang humanis dan persuasif. Penyuluh tidak boleh langsung menyalahkan masyarakat, melainkan memberikan pemahaman secara bertahap.

“Kami tidak bisa langsung mengatakan masyarakat salah. Pendekatannya harus pelan-pelan, dijelaskan dengan cara yang mudah dipahami,” ucapnya.

Ia menambahkan, penyuluh KB harus mampu menjadi sahabat masyarakat agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

Salah satu tantangan lain adalah masih banyaknya mitos yang berkembang di masyarakat terkait program KB, seperti anggapan bahwa penggunaan alat kontrasepsi dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

“Banyak yang beranggapan KB membuat gemuk. Padahal, itu belum tentu benar. Bisa jadi karena pola makan atau gaya hidup,” ujar Desca.

Ia menjelaskan bahwa penyuluh perlu memberikan edukasi berbasis fakta agar masyarakat tidak terpengaruh informasi yang keliru.

Melalui berbagai pendekatan tersebut, penyuluh KB terus berupaya mencapai tujuan utama program Bangga Kencana, yaitu mewujudkan keluarga yang sehat dan berkualitas.

Desca menegaskan keberhasilan program ini membutuhkan sinergi antara penyuluh dan masyarakat.

“Tujuan kita adalah menciptakan keluarga yang sehat dan berkualitas. Dengan pendekatan yang tepat, insyaallah target tersebut dapat tercapai,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....