Bilal Ibnu Rabah Bermimpi Bertemu Rasulullah SAW
- 14 Apr 2026 14:13 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Solo - Ketika Nabi sedang sakit di akhir hayatnya, sekelompok orang Ansor yang sedang duduk di sana menangis.
Salah seorang sahabat Nabi, yaitu Sayidina Abu Bakar As Siddiq atau Abbas bin Abdul Muthalib, bertanya, "Apa yang membuat kalian menangis?" Mereka menjawab, "Kami teringat majelis Rasulullah.
Dilansir dari you yobe Tv Alwafa tarim Selasa 14 April 2026. Biasanya Rasulullah keluar duduk bersama para sahabat di majelisnya. Mereka menangis setiap kali nama Nabi Muhammad disebutkan karena kecintaan mereka yang mendalam kepada Rasulullah SAW.
"Beberapa waktu kemudian, Bilal Ibnu Rabah bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpinya, Nabi bertanya, "Mengapa kamu menjauh, Bilal? Apakah kamu tidak ingin berziarah kepadaku, " ujar Habib Achmad.
Setelah bangun dari tidur, Bilal merasa sedih dan takut, lalu segera naik tunggangannya menuju masjid Rasulullah, bukan ke rumah kerabatnya, langsung ke makam Nabi.
Bilal menangis karena rindu kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah wafatnya Nabi, Bilal tidak lagi mengumandangkan adzan.
Setelah berziarah, Bilal menangis meluapkan kerinduannya. Kedua cucu Nabi, Al Hasan dan Al Husin, menciuminya dan berkata,
Kami ingin kau kumandangkan adzan seperti dulu saat kakek kami masih hidup, di masjid Rasulullah.
Karena permintaan Al Hasan, Bilal naik ke atap masjid dan berdiri di tempat yang biasa beliau gunakan untuk mengumandangkan adzan.
Ketika ia mengumandangkan adzan "Allahu akbar, Allahu akbar", suasana kota Madinah langsung terenyuh.
Semua menangis karena suara itu telah hilang sejak wafatnya Nabi.
Suara itu sangat akrab bagi penduduk Madinah; saat mendengar Bilal mengucapkan “Ashhadu alla ilaha illallah,” mereka pergi ke masjid dan membayangkan Nabi Muhammad ada di Mihrab.
Semua teringat momen bersama Nabi Muhammad. Saat Bilal mengucapkan “Ashhadu anna Muhammadan Rasulullah,” para wanita keluar dari kamar mereka.
Dan seluruh penduduk Madinah keluar bertanya-tanya apakah Nabi Muhammad dihidupkan kembali atau diutus lagi oleh Allah Ta'ala.
Penduduk Madinah pada hari itu merasakan kesedihan yang sangat mendalam, tidak ada hari sesedih sebagaimana hari itu, selain hari wafatnya Nabi dan hari ketika Bilal mengumandangkan adzan setelah wafat Nabi.
Semua menangis mengenang Nabi Muhammad SAW sebagai bukti cinta dan mahabbah mereka.
"Kita terus diperdengarkan sejarah hidup Nabi Muhammad agar semakin mencintai, mengidolakan, dan mengikuti beliau, " kata Habib.
Habib Mengajak kita semua untuk membahagiakan Nabi Muhammad dengan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Bahagiakan beliau dengan menghindari dosa, memperbanyak shalawat, berbakti kepada orang tua, dan menjalankan segala ajaran Nabi Muhammad SAW.
Mari jadikan majelis ilmu sebagai perahu yang membawa kita cinta kepada Nabi Muhammad dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang dicintai oleh beliau, Nabi besar Muhammad SAW.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....