Keluarga Jadi Kunci Pemulihan Pecandu Narkoba di Samarinda

  • 07 Apr 2026 08:12 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Tidak semua keluarga mampu langsung menerima kondisi anggota keluarga yang mengalami kecanduan narkoba. Rasa kecewa dan lelah sering kali menjadi reaksi awal, bahkan ada yang menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kepada lembaga rehabilitasi.

Konselor Adiksi Ahli Pertama Bareta Tanah Merah Samarinda, Endah Meilinda, mengakui kondisi tersebut kerap ditemui di lapangan. “Awalnya pasti ada keluarga yang kecewa, bahkan sulit dihubungi karena sudah terlalu sering dikecewakan,” ujar Endah dalam siaran Pro 1 RRI Samarinda, dikutip Selasa 7 April 2026.

Menurutnya, kekecewaan itu muncul akibat kepercayaan yang berulang kali dilanggar oleh klien. Janji untuk berhenti menggunakan narkoba kerap tidak ditepati, sehingga membuat keluarga kehilangan harapan.

“Sudah berkali-kali diberi kepercayaan, tapi disalahgunakan lagi. Itu yang membuat keluarga akhirnya lelah,” kata Endah. Ia menambahkan, kondisi ini menjadi tantangan awal dalam membangun kembali hubungan antara klien dan keluarga.

Dalam situasi tersebut, peran konselor menjadi sangat penting sebagai jembatan komunikasi. Tim rehabilitasi terus berupaya membangun kembali kepercayaan keluarga melalui pendekatan persuasif dan edukatif.

“Kami tetap mencoba membangun komunikasi dan menjelaskan perkembangan klien kepada keluarga,” ucap Endah. Ia menegaskan proses ini memerlukan kesabaran dan konsistensi.

Selain itu, konselor juga membantu keluarga memahami akar permasalahan yang dialami klien. Tidak jarang, faktor keluarga turut berkontribusi terhadap munculnya perilaku adiksi.

“Kami jelaskan juga ada kemungkinan faktor keluarga, seperti komunikasi yang kurang efektif atau kurang perhatian,” ujar Endah. Hal ini penting agar keluarga tidak hanya menyalahkan klien, tetapi juga melakukan refleksi.

Ia menyontohkan, beberapa klien berasal dari latar belakang keluarga yang kurang harmonis, seperti broken home atau minimnya perhatian dari orang tua. Kondisi ini membuat individu mencari pelarian di lingkungan luar.

“Ada yang merasa tidak diperhatikan, akhirnya mencari kenyamanan di luar dan terpengaruh lingkungan,” kata Endah. Ia menambahkan keinginan emosional yang tidak terpenuhi menjadi salah satu pemicu utama.

Melalui pendekatan cinta tegas, konselor berupaya mempertemukan kembali kepentingan klien dan keluarga. Kedua belah pihak difasilitasi untuk saling memahami dan membangun komunikasi yang lebih sehat.

“Kita fasilitasi mereka agar saling memahami, apa yang diinginkan klien dan apa yang diharapkan keluarga,” ucap Endah. Ia menegaskan proses ini memerlumemerlukankan keterbukaan dari kedua pihak.

Dengan kesabaran, edukasi, dan komunikasi yang berkelanjutan, hubungan yang sempat renggang dapat diperbaiki. Dukungan keluarga yang disertai ketegasan menjadi fondasi penting dalam membantu klien mencapai pemulihan yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....