Memahami Hakikat Rezeki yang Telah Tertakar
- 04 Apr 2026 06:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Persoalan rezeki seringkali menjadi beban pikiran yang mendominasi keseharian manusia. Banyak orang yang mengkhawatirkan rezeki secara berlebihan sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta dunia.
Dalam ajaran Islam, takaran rezeki setiap makhluk sebenarnya telah ditetapkan secara presisi oleh Allah. Hal ini disampaikan oleh Ustaz Bahtiar Fahrudin dari Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalimantan Timur (MUI Kaltim), dalam siaran Mutiara Pagi pada Kamis, 2 April 2026.
"Jadi manakala kita masih berada di dalam kandungan kemudian ditiupkan roh kepada kita di hari yang ke-120 kehamilan seorang ibu ditiupkan roh kepada sang janin ini. Salah satu yang sudah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wata ala adalah berapa banyak rezeki yang akan didapatkan selama hidupnya," kata Ustaz Bahtiar.
Ustaz Bahtiar menekankan selain rezeki, Allah telah menuliskan tiga perkara utama lainnya yang akan dijalani oleh setiap hamba. Perkara tersebut meliputi batas usia atau ajal, amal perbuatan selama hidup, hingga ketetapan apakah seseorang akan merasakan kebahagiaan atau kesengsaraan di akhirat kelak.
Kepastian mengenai hakikat rezeki ini dianalogikan dalam Al Quran dengan menggunakan hewan melata. Makhluk dengan keterbatasan ruang gerak sekalipun akan tetap dijamin kelangsungan hidupnya.
"Misalkan pada masa kecil kita, ada sebuah lagu kata dalam lagu itu. Cicak di dinding dia merayap. Apa yang datang makanannya? Datang seekor nyamuk. Hap. Lalu ditangkap. Coba kalau kita cermati lagu ini. Jadi, cicak ini salah satu binatang melata yang punya keterbatasan gerak. Dia pergerakannya itu hanya merayap di dinding. Tapi karena rezekinya sudah dijamin oleh Allah Subhanahu wa taala, maka siapa yang datang? Rezeki itu yang datang. Nyamuknya yang datang," ujarnya.
Selain itu, Ustaz Bahtiar menjelaskan adanya korelasi yang tidak terpisahkan antara sisa umur dan jatah rezeki. Selama seseorang masih bernapas, maka dapat dipastikan jatah rezekinya di dunia juga masih ada.
Meskipun kuantitas rezeki telah tertakar, tantangan terbesar bagi setiap individu adalah bagaimana menjaga aspek keberkahan dari apa yang telah diterima. Keberkahan inilah yang menjadi pembeda mengapa dua orang dengan penghasilan atau pekerjaan yang sama bisa merasakan kualitas hidup yang jauh berbeda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....