Mudik dan Etika Berlebaran: Jangan Lukai Momen dengan Pertanyaan Sensitif

  • 27 Mar 2026 10:17 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Idul Fitri identik dengan tradisi mudik, karena hari raya ini menjadi momen bagi seseorang untuk kembali menjalin silaturahmi dengan keluarga yang mungkin sudah lama tidak dikunjungi. Mudik menjadi langkah pulang kampung setelah setahun beraktivitas di daerah lain.

Anggota Muharrik Dakwah Samarinda, Abdy Rahman menyampaikan agar momentum Idul Fitri tidak dirusak dengan ucapan atau pertanyaan yang dapat menyakiti hati. “Yang paling penting adalah jangan merusak momen Idul Fitri dengan perkataan yang dapat menyakitkan hati,” ucapnya.

Dalam tausiyah di program Tauladan (Tanya Ustad di Bulan Ramadan) yang disiarkan di RRI Pro 2 Samarinda, ia menjelaskan bahwa beberapa pertanyaan yang sering muncul saat Lebaran justru dapat menyinggung privasi seseorang. Ia mencontohkan pertanyaan yang terlalu pribadi sebagai bentuk yang perlu dihindari. “Lebaran adalah momentum kita untuk bermaaf-maafan dan silaturahmi,” katanya dikutip Kamis, 26 Maret 2026.

Ia menambahkan, berbagai permasalahan yang mungkin muncul dalam hubungan antarsesama, apakah dimaafkan atau tidak, selanjutnya diserahkan kepada Allah. “Meminta maaf kepada orang yang telah kita sakiti, yang penting adalah kita memohon maaf dan ampun kepada Allah,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan tanda-tanda amalan seseorang tidak diterima oleh Allah. Salah satunya adalah ketika Ramadan dijalani tanpa perubahan makna ibadah terasa seperti rutinitas biasa, dan puasa hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.

Ia mengutip pendapat ulama Ibnu Rajab Al-Hanbali yang mengatakan, “Di antara tanda diterima kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” Hal ini berarti amalan seseorang selama Ramadan seharusnya memengaruhi perilaku dan ibadah setelah bulan tersebut berlalu.

Menurutnya, umat Muslim perlu melihat kembali dirinya: apakah sudah berusaha melakukan introspeksi, memperbaiki hubungan dengan Allah, serta menjaga salat dengan lebih baik. Momentum setelah Ramadan adalah waktu untuk menilai apakah ibadah yang dilakukan sudah membawa perubahan positif.

Ia kemudian mengajak pendengar untuk meneladani para sahabat Rasulullah. Sahabat, katanya, senantiasa mempertahankan semangat ibadah meskipun Ramadan telah usai. Mereka melakukan evaluasi diri selama enam bulan setelah Ramadan. Jika masih banyak yang kurang maksimal, maka mereka mempersiapkan diri kembali di enam bulan berikutnya hingga tiba Ramadan selanjutnya. “Apa yang mereka lakukan? Mereka melatih diri, melatih fisik dan mental, serta hati mereka agar menyiapkan diri menyambut Ramadan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....