Akademisi: 3M Tetap Jadi Pencegahan Utama dalam Melawan DBD dan Malaria
- 06 Mar 2026 12:30 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan malaria di Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai bersifat endemis karena kondisi geografis dan iklim yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Hal ini disampaikan akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, Swandari Paramita.
Menurutnya, status endemis berarti kasus DBD dan malaria akan tetap ada setiap tahun dengan angka yang relatif stabil, mengingat Kaltim berada di wilayah hutan hujan tropis.
“Untuk DBD dan malaria di Kalimantan Timur sebenarnya masuk kategori endemis. Artinya, kasusnya akan selalu ada karena kondisi lingkungan kita mendukung kehidupan nyamuk,” ujar Swandari, dalam program Halo Kaltim Pro1 Samarinda.
Ia menjelaskan, iklim tropis dengan curah hujan tinggi serta banyaknya area vegetasi dan genangan air menjadi faktor utama berkembangnya nyamuk penular penyakit. Karena itu, pengendalian tidak bisa hanya mengandalkan satu metode.
“Lingkungan kita memang habitat yang cocok bagi nyamuk. Jadi mau tidak mau, kasus DBD dan malaria akan tetap ada,” ucapnya, dikutip Jumat, 6 Maret 2026.
Terkait berbagai inovasi pencegahan, termasuk vaksinasi dan metode Wolbachia, Swandari menilai langkah tersebut tetap penting sebagai strategi tambahan. Namun, ia menekankan bahwa pencegahan berbasis perilaku masyarakat tetap menjadi kunci.
“Mau ada vaksin yang bagus atau obat terbaik sekalipun, prinsipnya tetap sama, mencegah lebih baik daripada mengobati,” katanya.
Ia kembali menegaskan gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air, merupakan fondasi utama pengendalian DBD di masyarakat.
“Pada akhirnya 3M juga yang harus kita jalankan. Itu yang paling mendasar dan tidak boleh ditinggalkan,” ujar Swandari.
Dengan status endemis tersebut, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan pengendalian DBD dan malaria di Kalimantan Timur. Edukasi berkelanjutan dan kesadaran kolektif dinilai sebagai langkah strategis untuk menekan risiko komplikasi dan kematian akibat kedua penyakit tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....