Dinkes Kaltim Monitoring Program Wolbachia, 3M Tetap Jadi Pencegahan Utama

  • 06 Mar 2026 12:19 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap berbagai program pencegahan demam berdarah dengue (DBD), termasuk uji coba metode Wolbachia di Kota Bontang. Upaya ini menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif untuk menekan angka kasus DBD di daerah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltim, Fitnawati, menjelaskan program Wolbachia merupakan inisiatif pemerintah pusat yang dilaksanakan secara bertahap di sejumlah daerah, termasuk Kaltim.

“Di Kalimantan Timur, Kota Bontang ditetapkan sebagai lokasi uji coba. Saat ini kami masih melakukan monitoring dan evaluasi sejauh mana program tersebut dapat dilaksanakan dan berdampak,” ujar Fitnawati kepada RRI, dikutip Jumat 6 Maret 2026.

Ia menegaskan, keberhasilan penanganan DBD tidak hanya bergantung pada vaksin atau metode tertentu, tetapi sangat ditentukan oleh peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Permasalahan kesehatan tidak bisa diselesaikan oleh institusi kesehatan saja. Dibutuhkan dukungan lintas sektor dan peran masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat,” ucapnya.

Menurut Fitnawati, Dinkes Kaltim saat ini memprioritaskan pendekatan promotif melalui edukasi berkelanjutan hingga tingkat puskesmas dan kader kesehatan. Jika hasil evaluasi program Wolbachia di Bontang menunjukkan dampak positif, kemungkinan perluasan ke kabupaten/kota lain akan dipertimbangkan.

“Kalau hasil monitoring menunjukkan dampak yang baik, tentu akan menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan di daerah lain,” katanya.

Sementara itu, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, Swandari Paramita, menegaskan metode pencegahan paling efektif hingga saat ini tetaplah gerakan 3M.

“Pencegahan terbaik adalah 3M, yakni menguras, menutup, dan mengubur. Mau sebagus apa pun vaksin dan penanganan di rumah sakit, kalau 3M tidak berjalan, akan sulit menekan kasus,” ujar Swandari.

Ia menambahkan, kesadaran masyarakat menjadi fondasi utama keberhasilan program pengendalian DBD. Tanpa partisipasi aktif warga dalam menjaga lingkungan, risiko penyebaran virus dengue akan tetap tinggi, terutama di wilayah padat penduduk.

Dengan kombinasi vaksinasi, inovasi program seperti Wolbachia, serta penguatan gerakan 3M, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur optimistis upaya pengendalian DBD dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....